Yang Hilang Arah

Aku terbangun gelagapan, serasa tubuh ini terpelanting dari angkasa dan masuk ke raga secara paksa. Padahal tubuhku belum siap menerimanya.

“Mimpi buruk lagi mas?” tanya istriku.

“Iya,” jawabku.

“Sudah satu minggu ini lho.”

Aku masih ingat bagaimana raut wajah istriku ketika pertama kali aku bermimpi buruk sepekan yang lalu. Wajahnya pucat dan ketakutan. Mulutnya komat-kamit merapal kalimat yang tidak kupahami bahasanya.

“Kan melamun lagi,” sergah istriku.

Aku terdiam beberapa saat. “Apakah kau mencintaiku?” tanyaku kemudian. “Jangan pernah kau meninggalkanku, ya?” tambahku.

Ia tampak menahan tawa mendengar pertanyaanku yang tidak biasanya, namun ia sungguh didera kantuk yang sangat. Kulihat matanya saja masih terpejam ketika dia menganggukkan kepalanya secara perlahan. Segera ia merebahkan kepala dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh terkecuali mukanya.

Walau aku tak puas dengan jawaban yang ia berikan, aku memakluminya. Ia memang sudah sangat letih sedari pulang dari kantor. Sebagai seorang news anchor, ia memang selalu tampak menawan didepan layar kamera. Ia seorang profesional dan sangat mencintai pekerjaaanya. Satu yang selalu ia suarakan, anti korupsi. Namun jika di rumah, ia seorang istri dan ibu yang bisa kuandalkan.Walau begitu, ia kerap kali berdiskusi denganku tentang pekerjaannya dan berita apapun yang sedang update yang ia bawakan yang kemudian berujung pada candaan dan gurauan pengantar tidur. Diskusi sederhana di atas ranjang sebelum kami benar-benar tertidur yang selalu kurindukan jika sedang berada jauh darinya.

Aku beranjak menuju kursi malas yang berada tak jauh dari ujung ranjang. Kursi tersebut sangat aku sukai karena menghadap langsung ke taman di samping kamar yang hanya dibatasi oleh sekat kaca yang berukuran sedang. Jika ditarik garis lurus kebetulan sekali kaca itu sedikit lebih rendah dari posisi yang dibilang eye angle jadi seolah aku sedang menonton pemandangan taman dan kolam yang dipenuhi ikan-ikan dari jendela kaca tersebut.

Beberapa saat aku terlena hingga kemudian kepalaku serasa pening. Tampak olehku kaca jendela tersebut menjadi sebuah layar yangmempertontonkan sebuah drama yang tidak asing bagiku. Ada aku disitu. Sebuah kejadian seminggu yang lalu.

***

Ini bukan kali pertama mereka menemuiku, untuk kesekian kalinya mereka datang kembali.  Dua orang begundal yang duduk di depanku menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja kaca dengan ketebalan 3 cm tersebut. Penampilan mereka sangat rapi, menggunakan setelan tuxedo lengkap dengan dasi kupu-kupu. Rambutnya yang klimis mengisyaratkan jika keduanya rutin menjaga penampilan fisiologisnya. Mereka ngotot agar aku mau menerima amplop tersebut.

“Terima saja, Pak?” ungkap salah satu dari mereka.

“Tidak,” jawabku tegas.

“Ini bonus, Pak, karena Bapak sudah membantu kami meloloskan proyek reklamasi ini,” mereka mendesak.

“Sekali tidak tetap tidak,” aku mengeras.

“Semua sudah terima, Pak, hanya anda sendiri yang belum dapat, dan itu tidak adil bagi kami. Ini bukan korupsi, Pak, ini hadiah dan tanda terima kasih dari kami kepada bapak,” ucap seorang yang sejak tadi sedikit bicara.

Tanpa banyak bicara mereka memasukkan  amplop cokelat tadi. Salah seorang diantaranya menjauh dan mengangkat telepon dari seseorang. Setelah itu ia kembali duduk di depanku dan mengeluarkan sebuah amplop tipis yang juga sudah mereka persiapkan. Aku buka amplop itu, sebuah cek dengan angka nol mencapai 9 digit. Pertahananku goyah.

***

Aku tersentak bangun dari tidur. Kulihat matahari sudah sepenggalah naik. Kebingunganku bertambah ketika melihat lemari kamar ini sudah acak-acakan.Berbagai isi lemari bertebaran di lantai dan di atas ranjang. Kulihat berbagai dokumen penting terkait pekerjaanku sebagai pejabat publik raib. Aku berpikir keras. Mungkinkah pencuri telah masuk dan merampok segala barang berhargaku. Kutepis semua prasangkaku sebelum mendapatkan buktinya.

Kebingunganku bertambah manakala kulihat baju dan koper istriku juga tiada di tempatnya. Aku cari dan cari lagi di seluruh sudut rumah namun tak kutemui batang hidung istriku. Kulihat melalui jendela rumah terpasang garis polisi terikat pada sekeliling rumah. Sebuah plang besar menyatakan rumah ini telah disegel oleh pemerintah. Aku bingung apa yang telah terjadi.

Seseorang berpakaian dinas mendatangiku. Tangan kirinya memegang borgol sedang tangan kanannya menyodorkan sebuah surat kepadaku.

“Apa ini?” tanyaku.

“Surat perintah penahanan.”

“Tapi kenapa saya ditahan?”.

“Anda telah menerima gratifikasi.”

Leherku seakan tercekik, kata-kata serasa tertahan di tenggorokanku. Aku lari ke dalam kamar. Aku cari amplop cokelat tipis di laci meja samping tempat tidur. Tak ada. Pandanganku terfokus pada amplop putih yang seingatku tak pernah aku menaruhnya di situ. Kubuka amplop itu, di dalamnya tertulis: “Aku tidak bisa hidup dengan koruptor.” Tertanda, istriku.

Rumah dan seisinya serasa menimpa kepalaku. Aku tidak bisa mengelak lagi. Kepalaku seolah mau pecah dan dadaku seolah mau meledak. Mataku berkunang-kunang. Di luar borgol menanti tapi aku juga tidak bisa bersembunyi di kamar terus menerus. Aku tidak bisa berpikir panjang lagi. Aku menuju pintu samping dan berlari sekencang-kencangnya.

Aku berlari tak tentu arah. Dengan baju yang tak sempurna, aku menyusuri jalanan yang tak berujung ini. Aku pikir jika aku sudah kelaparan, aku tak merasa malu sedikitpun memungut sisa makanan di tong sampah, berebut dengan kucing pasar. Aku terus berlari tanpa henti, tak kupedulikan sekitarku, ini duniaku kini.[]