Warek III Tak Mau Tandatangan, GMPK Segel Gerbang Kampus

Aksi demonstrasi lanjutan oleh Gerakan Mahasiswa Peduli Kampus (GMPK) di depan Gedung Rektorat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember yang sebelumnya menyegel Gedung Rektorat, berlanjut ke penyegelan Gerbang Kampus, Selasa (19/9). Hal tersebut sebab Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama IAIN Jember, Sukarno tidak mau menandatangani surat pernyataan dari GMPK.

Sekitar pukul 09.30 WIB Sukarno mendatangi puluhan mahasiswa yang terlibat aksi demonstrasi. Koordinator lapangan aksi, Muhammad Fiki Syamsul Arifin menyampaikan tuntutan mengenai kerusakan fasilitas kampus. “Kami menuntut kerusakan fasilitas kampus yang jelas merusak Kode Etik Mahasiswa, namun tidak ada ketegasan dari Bidang Kemahasiswaan,” ujarnya.

Fiki juga mengatakan, beberapa kali GMPK telah melakukan negosiasi dengan Sukarno berupa tuntutan dan pernyataan. “Hari ini terkait kebenaran dan keadilan, siapapun yang bersalah baik itu pemimpin, pejabat maupun karyawan apabila bersalah mereka harus dihukum,” ujarnya. Ia menambahkan, apabila mahasiswa melakukan kerusakan fasilitas kampus maka harus ditindaklanjuti oleh Bidang Kemahasiswaan.

Koordinator lapangan membacakan surat pernyataan yang diajukan kepada Sukarno, untuk ditandatangani setelah memberikan batas waktu selama 1×24 jam dari Senin, (18/9). Adapun isi dari surat pernyataan tersebut, menindak secara tegas aksi premanisme, menegakkan kebijakan kampus sesuai kode etik mahasiswa dan mengurus tuntas aksi, serta apabila hal itu tidak terpenuhi maka secara otomatis mengundurkan diri sebagai Wakil Rektor III IAIN Jember.

Sukarno mengatakan, ia akan meminta pihak Dewan Perwakilan Mahasiswa-Institut (DPM-I) untuk mengajukan surat atas kerusakan fasilitas kampus. Ia juga mengatakan, akan segera menindaklanjuti kasus tersebut. “Saya akan menjalankan itu, tetapi jika saya diminta untuk tandatangan, saya mohon maaf, saya tidak bisa menandatangani surat ini,” ujarnya. Ia tidak memberi alasan terkait penolakan penandatangan tersebut.

M. Wasik, salah satu massa aksi dalam orasinya mengatakan, jika pimpinan tidak mau menandatangani surat pernyataan tersebut, maka massa aksi akan menyegel Gerbang Kampus. “Mereka yang berorganisasi boleh melakukan kegiatan organisasi, tapi untuk perkuliahan, harus disegel karena sampai saat ini pimpinan tidak mau mengamankan kita,” kata Wasik.

Massa aksi meninggalkan Gedung Rektorat dan menyegel Gerbang Kampus. Mahasiswa yang hendak kuliah dilarang masuk kampus, sedangkan mahasiswa yang berorganisasi diperbolehkan masuk kampus.

Menurut Yusnia Khoirotun Nisa, mahasiswa Fakultas Tarbiyah Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah IAIN Jember, aksi penyegelan ini merebut haknya sebagai mahasiswa. “Mereka mengambil hak aku, orang yang bayar kuliah itu orang tuaku kok mereka yang melarang aku kuliah,” ujarnya.[]