Wakil Rektor III Membuka Paksa Segel Kantor DPM-I dan BEM-I

Sukarno, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, berusaha membuka paksa segel kantor Dewan Perwakilan Mahasiswa-Institut (DPM-I) dan Badan Eksekutif Mahasiswa-Institut (BEM-I) sekitar pukul 10.00 WIB (15/9). Dengan membawa enam satpam kampus IAIN Jember dan satu polisi, segel tidak berhasil dibuka sebab dihalangi aliansi mahasiswa.

Sukarno bersama satpam IAIN Jember dan polisi menuju Kantor DPM-I dan BEM-I yang tengah disegel. Ia meminta aliansi mahasiswa untuk membukanya. Pada saat itu beberapa aliansi mahasiwa menolak dan merapatkan barisan di depan pintu kantor DPM-I dan BEM-I. Sebab tidak mau membukakan segel, Sukarno membuka paksa segel tersebut.

Dengan perintah Sukarno, satpam langsung membuka paksa ruang segel yang dihalangi aliansi mahasiswa. Sempat ada dialog antara Sukarno dengan salah satu aliansi mahasiswa setelah satpam tidak berhasil membuka segel.

“Menyalahi protap (prosedure standart) membawa polisi ke dalam kampus,” ujar Wildan, aliansi mahasiswa saat pembukaan segel secara paksa berlangsung. Dengar pernyataan itu Sukarno menjelaskan bahwa ia memang mengundang polisi tersebut dan ia yang bertanggung jawab atas itu.

Setelah dialog selesai, Sukarno kembali menyuruh satpam untuk membuka ruang segel, namun aliansi mahasiswa tetap mempertahankan penyegelan. Sebab tidak berhasil membuka segel, Sukarno bersama beberapa satpam dan polisi meninggalkan lokasi penyegelan.

Ketika diklarifikasi mengenai alasan Sukarno membawa polisi masuk kampus dan berada di lokasi penyegelan, Sukarno mengatakan ia membawa polisi untuk antisipasi adanya bentrok. “Untuk mengamankan saja,” ujarnya.

Alasan Sukarno memerintahkan satpam membuka paksa segel, sebab permintaan dari DPM-I dan BEM-I. Permintaan tersebut sempat disampaikan setelah forum audiensi (11/9) di Ruang Madya IAIN Jember.

Selain itu pada saat usaha pembukaan segel berlangsung, ia mengatakan aliansi mahasiswa hanya bermasalah dengan KPUM, bukan dengan DPM-I dan BEM-I. “KPUM dibentuk oleh DPM-I, Pak,” ujar Jufriyanto saat menanggapi pernyataan Sukarno. Ia menambahkan, aliansi mahasiswa juga mempermasalahkan DPM-I dan BEM-I.

Indi Ghozirur Rohmah, aliansi mahasiswa menyayangkan sikap Sukarno yang membuka paksa segel tanpa adanya jaminan berupa surat pernyataan, untuk tidak mengizinkan DPM-I dan BEM-I melakukan kegiatan administrasi apapun. “Disayangkan saja jika Pak Karno membuka segel tanpa jaminan berupa surat pernyataan,” ujarnya.[]