Temu Alumni dan Nostalgi(L)a Persma

Beberapa waktu yang lalu tepatnya di hari perdana bulan November, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Jember menggelar acara Temu Alumni. Sejatinya acara ini merupakan acara tengah dari serangkaian acara yang diawali dengan kegiatan pelatihan jurnalistik selama dua hari sebelumnya dan kemudian ditutup dengan Musyawarah Kota (Muskot) untuk meregenerasi pucuk pimpinan pada tubuh PPMI Kota Jember pada hari berikutnya.

Namun saya tidak akan menyinggung semua rangkaian acara tersebut. Saya akan kerucutkan tulisan ini pada seputaran temu alumni. Karena bagi saya pribadi acara ini terasa spesial karena menjadi ruang dialogis dengan balutan kultural yang romantis bagi tiga generasi manusia yang sempat menjadi mahasiswa dengan mendedikasikan diri pada PPMI. Mulai dari generasi 1990-an, generasi 2000-an dan generasi persma kini (2010 keatas). Ditangan tiga generasi ini PPMI eksis selama tiga dekade terakhir khususnya di kota tembakau ini.

Perkenalan pengurus dari masing-masing Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) serta para alumni persma Jember–karena tidak ada alumni LPM–mengawali acara ini, dilanjutkan dengan pemaparan kondisi LPM dikota Jember secara keseluruhan. Banyak kendala yang di hadapi oleh LPM di Jember yang secara garis besar dapat ditarik benang merahnya karena masalah yang dihadapi oleh semua LPM linear satu dengan yang lainnya. Masalah klasik: kaderisasi, pendanaan, birokrasi dan minimnya isu/wacana kritis.

Selain itu, masih ada Paradigma LPM di Jember yang terbuai sensasi imajinatif masa lampau, bahkan tersirat kesan untuk mengulang sejarah ‘kesuksesan’ persma di masa lalu, walaupun esensinya hanya buaian untuk memompa semangat awak persma kini. Namun berbeda dalam perspektif alumni, berbicara persma masa lalu itu nostalgia, tidak ada yang spesial bahkan dibredel sekalipun, SAS (ex LPMS UNEJ) menerbitkan tabloid tentang Pram bukan karena berkaitan dengan tragedi 65. Sama sekali bukan, melainkan bentuk solidaritas pada sastrawan yang tidak leluasa mengekspresikan diri. Dan itu sudah lewat.

Alumni mengingatkan kembali apa tujuan kita berpersma. Harus ada alasan kenapa berpersma, pun harus ada target yang jelas. Yang terpenting kini adalah menulis. Tidak ada alasan untuk tidak menulis. Ingat, persma adalah media alternatif. Alumni mengingatkan jika media alternatif dulu digaungkan dalam konteks yang berbeda dengan saat ini. Kini di era reformasi kran kebebasan berekspresi telah terbuka lebar ditambah lagi dengan media daring yang membuatnya semakin semarak.

Merujuk pada tema “Semangat Pers Mahasiswa di Era Digital” Persma di Jember lebih dituntut untuk memaksimalkan media daring. Hal ini memberi banyak keuntungan, dari tidak adanya ongkos cetak serta akses yang lebih luas. Pasalnya sebelumnya persma di Jember sempat mengeluhkan seretnya dana yang membuat forum temu alumni sedikit ‘gerah’. Para alumni kemudian mempertanyakan kembali apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan mendasar persma di Jember.

Ada kebutuhan realistis pada alumni yaitu sebagai referensi mencari tempat kerja jika kelak telah lulus, ada kebutuhan romantis sebagai tempat mencari keluarga bahkan ada kebutuhan ironis, yaitu untuk hanya sekedar mencari tanggal lahir berdirinya salah satu LPM yang ada di Jember. Menarik memang berbicara kebutuhan yang beragam dari peserta forum yang hadir saat itu hingga kemudian sempat terlintas untuk pembentukan suatu wadah antara alumni dan persma di Jember.

Namun lagi-lagi ‘wadah’ seperti apa yang sesuai menjadi pertanyaan, karena tidak mungkin mewadahi air dengan keranjang. Tak sepenuhnya keliru jika alumni berkata persma di Jember harus mengidentifikasi terlebih dahulu kebutuhannya. Karena yang dapat menjawab tantangan dan masalah yang dihadapi masing-masing LPM adalah punggawanya sendiri. Kaderisasi yang termasuk salah satu kendala harus ditepis karena memang sejatinya seperti itulah persma dari masa ke masa.

Menulislah yang baik. Tulisan yang baik adalah yang menjelaskan secara jelas keberpihakan penulisnya. Tentu bagi persma keberpihakannya adalah kepada publik, lebih khusus lagi kepada yang ‘tertindas’. Karena masih banyak realita sekitar yang kadang tak sesuai dengan idealitasnya. Alumni mencontohkan bagi LPM dari Fakultas Kesehatan misalnya yang sempat mengeluhkan kesulitan wacana dengan mengangkat berbagai masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat seperti BPJS atau akses kesehatan yang lain atau bahkan solusi alternatif dengan pengobatan herbal.

Alumni juga menepis kekhawatiran awak LPM tentang pekerjaan pasca lulus kuliah. mau mencari salary yang tiga kali lipat dari gaji PNS, bahkan kalau tertarik dengan dollar pun juga bisa. Ia mengingatkan jika yang terpenting kini adalah kualitas yang bisa diandalkan. Karena juga tidak sedikit wartawan handal yang memiliki basic ilmu eksak sejenis teknik ataupun MIPA. Bahkan tidak semuanya sempat mencicipi PPMI.

Kini wadah yang diasumsikan sebagai ruang dialogis terfasilitasi dalam ruang virtual melalui aneka gadget yang hampir dimiliki oleh semua awak persma dan alumni. Dalam grup-grup sosmed tersebut tercipta interaksi melalui pelemparan isu dan wacana yang dibutuhkan oleh persma di Jember. maka tidak ada lagi alasan yang yang menjadi kendala persma di Jember, karena sejatinya berbagai masalah klasik yang masih kekinian tersebut adalah tantangan yang harus diselesaikan dengan cara kekinian pula. Walaupun kadang mengeksekusi lebih sulit dari sekedar basa-basi.

Itulah penggalan catatan yang saya ingat tentang temu alumni. Banyak kesan dan pelajaran didapat dalam momen sehari yang jarang sekali terjadi, karena bagi saya pribadi ini adalah kali pertama saya mengikutinya sejak aktif di PPMI Jember dan tidak semuanya terekam dalam tulisan ini. Tulisan ini hanya sekedar pemantik menuju terciptanya ruang dialogis yang konstruktif bagi persma Jember dan alumninya.

Terima kasih saya ucapkan kepada segenap alumni: Mas Dwijo, Mas Agung Sedayu, Mas Hadi Win, Mas Anam, Mas Amrullah, Mbak Ari, Mas Putu, Mas Agus, Mas Romdhi, Mas Ulum, Mas Husen, Mas Arimacs dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak tersebut. Semoga lain kali ada kesempatan bagi kita untuk bersua kembali. Dan juga terima kasih kepada Sekjend dan Pengurus PPMI Kota Jember 2014-2016, dan selamat bagi Sekjend dengan kepengurusan baru PPMI kota Jember. Mari Berjejaring dan Saling Menguatkan. Viva Persma Indonesia!!![]