Teater Kosong: Petani Menggugat

Pementasan teater Petani Agugat oleh Teater Kosong Komunitas Seni (KOMSI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, yang semula saya kira petani menggugat korporasi ataupun pemerintah yang mengeluarkan kebijakan yang menyengsarakan, justru kemudian saya menyadari bahwa alasan mereka menggugat karena hama tikus yang menyerang sawah mereka. Ketika layar dibuka, lima orang lelaki keluar dari sisi kanan panggung seolah-olah mengejar koloni tikus dan memukul-mukul tikus dengan kayu. Seusai puas membunuh tikus, mereka tampak berpikir keras, mencari akar permasalahan bagaimana koloni tikus itu menyerang sawah mereka?

Usut-diusut, salah satu dari mereka menuding koloni tikus yang merusak tanaman itu berkaitan dengan bisnis yang dilakoni oleh seorang warga, Bu Paimin. Dikisahkan dalam lakon itu, Bu Paimin mempunyai usaha jual-beli kulit ular. Usahanya cukup sukses sampai-sampai kulit ular itu dikirim ke luar negeri. Akan tetapi di balik kesuksesan itu, Bu Paimin jelas-jelas telah mengakibatkan hilangnya keseimbangan alam, memutus rantai makanan. Ular sebagai predator pemakan tikus telah punah. Maka tak heran jika koloni tikus itu menyerang sawah petani.

Bermula dari obrolan di warung minum Mbak Sri, kelima petani itu kemudian merencanakan sebuah gerakan untuk menuntut Pak Lurah. Hadirnya seorang tokoh hansip di antara mereka rupanya menjadi motor penggerak gerakan itu, membuka “pintu masuk” agar gerakan itu berjalan lancar sesuai rencana.

Beberapa hari kemudian, mereka menyerbu balai dusun. Gugatan mereka sampaikan. Pak Lurah dengan ramah menyambut mereka, bahkan memberi mereka solusi. Salah satunya, mengusir tikus dengan burung hantu. Cara ini dipandang cukup ampuh, karena lazimnya burung hantu memiliki penglihatan yang tajam di malam hari. Sekali kejap mata, satu, dua atau tiga ekor tikus tertangkap. Adapun solusi yang lain, yaitu diadakan sebuah sayembara menangkap tikus. Pak Lurah mematok harga 25 ribu rupiah per ekor.

Mengisi Ruang Kosong

Jika harus menilai pementasan teater yang dipentaskan oleh warga baru KOMSI IAIN Jember (AO15) itu, saya tidak sedikit menemukan ruang yang kosong. Kosong yang saya maksud adalah sebuah spasi yang menjadi pemisah antara penonton dengan tokoh. Penonton dan tokoh seolah berada di antara dua kutub yang berlawanan. Keduanya tidak menemukan “medium” untuk mengisi ruang yang kosong itu, bahkan mengalami kesulitan untuk memasuki ruang kosong itu.

Ketika awal layar dibuka, misalnya, saya mengira setting panggung di sebuah persawahan pada malam hari. Yang tergambar dalam imajinasi saya, kelima petani itu mengejar-ngejar koloni tikus yang berlari di semak-semak tanaman. Setelah adegan kejar-kejaran berhenti, saya segera sadar bahwa ada yang ganjil dengan setting panggung itu. Di sana-sini berjajar beberapa lincak dan kursi yang terbuat dari bambu. Para tokoh kemudian ada yang duduk, ada pula yang berdiri.

Beberapa saat kemudian, seorang hansip keluar dari sisi kanan panggung. Sepertinya ia terusik oleh kegaduhan para petani. Ia sampai otot-ototan, mengapa mereka berada di kawasan kekuasaannya tanpa izin terlebih dahulu? Sambil mengayun-ngayunkan pentungan, hansip itu kemudian berkata, “Gudang ini daerah kekuasaan saya.” Byarrr!!! Seketika itu, imajinasi saya buyar. “Jadi mereka bukan berada di sawah, toh?! Tapi di gudang…” pikir saya.

Sawah atau gudang, dua setting panggung ini tergambar dalam imajinasi saya. Tanpa didukung latar belakang (background) yang menampilkan detil suasana lokasi, sampai pementasan selesai saya tidak henti-hentinya memikirkan kejelasan setting panggung itu. Jika setting panggung itu memang di sebuah gudang setidaknya dilengkapi dengan tumpukan karung, misalnya, entah berisi gabah, beras, jagung, dan sebagainya. Sampai di sini, saya merasa gagal mengerahkan imajinasi saya untuk mengikuti alur ceritanya.

Belum lama saya memfokuskan menikmati pertunjukan, imajinasi saya kembali buyar. Masalahnya solusi yang ditawarkan Pak Lurah sungguh di luar nalar saya. Tanpa ada alasan yang kuat, tiba-tiba Pak Lurah memberikan solusi mengusir tikus dengan burung hantu. Bukan memberikan solusi, justru mendatangkan masalah baru.

Masalah lain, yakni solusi terakhir menimbulkan pertanyaan; mana ada di Jember, yang diakui oleh penulis naskah sebagai sasaran lokasi observasinya, menerapkan ajang pemburuan tikus yang per ekornya dihargai 25 ribu rupiah? Justru solusi ini membawa imajinasi saya melayang ke Jakarta, yang telah menjalankan Gerakan Basmi Tikus dengan membeli tikus dengan harga 20 ribu rupiah per ekor. Sampai di sini, sekiranya, observasi mendalam atas setting cerita sangat diperlukan, agar di kemudian hari tidak menimbulkan bias.

Humor yang Dipaksakan

Dari sekian banyak penonton yang hadir di aula IAIN Jember itu, seberapa banyak penonton yang memahami alur cerita itu? Saya sedikit menaruh curiga, jangan-jangan tidak sedikit yang merasakan kegelisahan yang sama dengan saya. Di antara mereka barangkali ada yang kecewa dengan pementasan teater itu, karena kepuasan yang didapat tidak setimpal dengan biaya tiket yang dikeluarkannya, yakni 5 ribu rupiah.

Selama kurang lebih 30 menit pertunjukan berlangsung, saya seringkali menangkap adegan yang dipaksakan. Bahkan tidak hanya itu, satu, dua atau tiga tokohnya cenderung terkesan dimunculkan dalam keadaan terpaksa. Kehadiran tokoh Ses, misalnya, yang digambarkan sebagai seorang yang memiliki kepribadian ganda. Sebuah pertanyaan kemudian mengemuka; mengapa tokoh Ses dimunculkan di antara para petani yang menggugat tokoh Pak Lurah? Ketika ia terlibat dalam lingkaran gerakan itu, malah ia mendapat perlakuan diskriminasi? Sungguh ironi!

Nampaknya, kehadiran tokoh Ses dalam lakon ini hanya sebagai pelengkap, pemecah keheningan, lebih sering dimanfaatkan. Seperti ketika di warung minum Mbak Sri, tokoh Ses terpaksa menanggung harga kopi dikarenakan teman-temannya para petani itu kabur melarikan diri. Bahkan tidak hanya itu, ketika salah satu petani tengah menggoda Mbak Sri, melihat tokoh Ses merajuk dengan gaya tubuh yang gemulai, petani yang lain menggoda tokoh Ses dengan merayunya agar tidak cemburu.

Meminjam pandangan Roland Barthes (dalam esai Dua Mitos Teater Baru), tokoh Ses dapat kita posisikan sebagai tokoh yang “diganyang” oleh perannya. Meski dalam dunia nyata tidak sulit menemukan seseorang yang berkarakter seperti tokoh Ses, setidaknya perlu kearifan untuk menghadirkannya dalam sebuah lakon. Jika lakon itu mengusung tema serius seperti Petani Menggugat, sangat tidak relevan dimunculkan – terlebih dimunculkan tidak naluriah, dipoles sedemikian rupa sebagai pengocok perut.

Memang, sebuah lakon akan terasa hambar tanpa disisipi humor. Tokoh Ses yang lebih dominan menjadi pusat tawa penonton, menjadikan penonton terbuai, cenderung acuh dengan isu sensitif gender. Jika memang tetap memaksakan menyisipkan adegan humor, setidaknya humor itu tidak memperolokkan kelainan tokohnya, terlebih dengan nada rasis.

Melihat tema yang diusung dalam pementasan teater ini cukup menarik, hemat saya, humor dilancarkan untuk mengkritik korporasi ataupun pemerintah dan pimpinan perusahaan yang terlibat konflik dengan petani. Di sini, bukanlah tokoh yang ditertawakan oleh penonton, melainkan korporasi/pemerintah dan pimpinan perusahaan itu.

Jika semua anasir itu – meski sebagaian – sudah terpenuhi, penonton akan merasa puas. Lagi-lagi meminjam perkataan Roland Barthes, “… saya senang karena telah menginvestasikan uang saya untuk bakat yang layak untuk itu, bagi saya memberi imbalan seratus kali lipat dalam bentuk airmata yang sesungguhnya, keringat yang sesungguhnya. …uang saya sebagai spectator akhirnya mendapatkan hasil nyata.”

Dan, kepuasan itu makin terasa nyata ketika para tokoh, penata panggung, penata musik, dan segenap kru pementasan teater Petani Agugat, berdiri berbaris, dengan tangan kiri terkepal ke atas sambil memekikkan, “Hidup Petani!!! Hidup Petani!!! Hidup Petani!!!!”. []