Tantangan Perguruan Tinggi Islam

Ronald Lukens Bull, Antropolog dari Universitas Florida Utara, Amerika.  (Foto: Millenium/Muhammad Ulum)
Ronald Lukens Bull, Antropolog dari Universitas Florida Utara, Amerika. (Foto: Millenium/Muhammad Ulum)

Perguruan tinggi Islam berbondong-bondong mengajukan perubahan status. Ketika direstui, tentunya menjadi sebuah kebanggaan, sekaligus tantangan. Tantangannya, yaitu dituntut menjadi kiblat pendidikan Islam di dunia. Mampukah perguruan tinggi Islam menjawab tantangan tersebut?

Pada 19 Desember 2014 yang lalu, Presiden Joko Widodo meresmikan perubahan status 12 perguruan tinggi Islam, mulai dari sekolah tinggi menjadi institut dan institut menjadi universitas. Sembilan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) yang diubah menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN), yaitu IAIN Samarinda, IAIN Palangkaraya, IAIN Kendari, IAIN Manado, IAIN Jember, IAIN Salatiga, IAIN Purwokerto, IAIN Palopo, dan IAIN Langsa. Sementara tiga institut yang diubah menjadi universitas, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Wali Songo Semarang, UIN Raden Fatah Palembang, dan UIN Sumatera Utara Medan.

Jokowi pun menyambut baik perubahan status tersebut. “Saya menyambut baik transformasi perguruan tinggi ke universitas. Saya banyak melihat UIN Jakarta kedokterannya bagus sekali,” katanya seperti dilansir Kompas.com (Jumat, 19 Desember 2014).

Lebih lanjut, Jokowi mengungkapkan, perkembangan pendidikan Islam di Indonesia merupakan salah satu wujud nyata, Islam bisa berjalan seiringan dengan demokrasi. Menurutnya, hal inilah yang menjadi kekayaan Indonesia dan selalu membuat kagum negara lain.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pun menaruh harapan kepada perguruan tinggi Islam. Dalam sambutannya di depan para rektor perguruan tinggi yang hadir dalam peresmian perubahan status 12 perguruan tinggi Islam, mengatakan, sudah saatnya Indonesia menjadi kiblat pendidikan Islam di dunia. Pasalnya, Indonesia memiliki jumlah sekolah Islam terbanyak di dunia.

Kini, harapan itu sepenuhnya dikembalikan kepada perguruan tinggi Islam masing-masing. Dengan menjadi kiblat pendidikan Islam di dunia, mununjukkan bahwa pendidikan Islam di Indonesia benar-benar selalu membuat kagum negara lain. Sebagai bentuk rujukan membaca perkembangan perguruan tinggi Islam di Indonesia, simak hasil wawancara Mohamad Ra’uf dari Millenium dengan Prof. Ronald Lukens Bull, Ph.d, Antropolog dari Universitas Florida Utara, Amerika.

Mulai kapan Anda melakukan penelitian di Indonesia?

Saya pertama kali melakukan penelitian di Indonesia tahun 1992, lanjut 1994 sampai 1995 tentang pesantren. Kalau 2008 sampai 2012 tentang PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri).

Apa yang melatarbelakangi Anda melakukan penelitian di Indonesia?

Secara ilmiah, dulu saya tertarik pada masalah agama dan modernisasi. Kalau mau mengkaji masalah modernisasi, negara, dan agama di Indonesia, yang paling pantas, Islam. Kalau masalah hubungan tradisi dan modernisasi, yang paling pantas adalah kalangan pesantren. Karena memang tradisinya kuat, tapi menerima modernisasi.

Salah satu buku Anda yang berjudul A Peaceful Jihad: Javanese Islamic Education and Religious Identity Construction, membahas tentang jihad damai yang dimulai dari pesantren. Mengapa Anda mengambil contoh pesantren?

Saya diarahkan oleh dosen pembimbing. Tapi memang tertarik pada pesantren. Karena, di pesantren tempat paling bagus memahami tradisi dan modernisasi. Jadi, itu yang mendasari banyak pertanyaan dari mahasiswa (peserta kuliah umum “Pesantren dalam Pandangan Antropologi” pada Senin (25/5) di IAIN Jember): sekarang pesantren dikontaminasi pemerintah.

Sebagai antropolog yang meneliti perkembangan Islam di Indonesia, bagaimana pemahaman Anda terhadap Islam di Indonesia dengan negara lain?

Dibandingkan dengan negara lain, masih bagus di Indonesia. Tapi kalau dibandingkan dengan dulu, ini agak sedikit gugup, Indonesia mau jadi seperti apa. Makin lama makin bertambah pengaruh dari kelompok garis keras. Saya sebagai orang luar mengamati Indonesia sudah lama. Ada rasa memiliki, cinta, walaupun saya bukan warga negara Indonesia.

Jadi kalau saya lihat ada sesuatu yang menyakiti orang Indonesia, berarti menyakiti hati saya sendiri. Akhir-akhir ini perkembangan gerakan garis keras makin punya pengaruh. Tapi saya masih dikasih harapan, (yaitu) ketemu dengan anak muda yang punya wawasan luas, terdidik dan terbuka untuk berbincang dengan orang luar negeri.

Buku Anda yang lain, yaitu Islamic Higher Education on the Cross Road, membahas tentang perguruan tinggi Islam di Indonesia. Mengapa Anda menjadikan perguruan tinggi Islam sebagai objek penelitian Anda?

Yang pertama, karena lulusan pesantren pergi ke IAIN. Saya waktu itu lulus dari pesantren pergi ke IAIN. Di sana saya juga ditugaskan mengajar. Jadi sekalian ngajar itu jadi masukan untuk penelitian.

Apa saja hal-hal yang Anda temukan?

Wah, banyak. Kesimpulannya tidak begitu mudah. Tapi memang ada perkembangan. Ada beberapa hal yang menjadi perdebatan. Ditambah lagi IAIN menjadi UIN. Waktu itu, memang banyak orang takut, kalau jadi UIN yang agama hilang. Saya punya pendapat, kalau takut, harus ada pengajaran contoh yang lain, yang bisa dilestarikan. Misalkan, di Amerika ada banyak universitas Kristen, tapi unsur agamanya tetap kuat. Bagaimana mereka bisa melakukan itu?

Kalau IAIN mau menjadi UIN dan mau tahu bagaimana caranya untuk melestarikan unsur agama, sebaiknya melakukan studi banding dengan universitas Kristen di Amerika. Bukan karena mau jadi seperti Kristen, tapi mereka memang melestarikan unsur agama. Prilaku di asrama dilestarikan oleh universitas, dilarang minum-minuman keras, kawin sebelum nikah. Kalau melanggar nilai, standar, boleh diusir dari universitas. Caracter building diperhatikan. Tiga kali seminggu minimalnya wajib ikut – boleh dikatakan – “pengajian”. Kalau tidak ikut, tidak lulus, bisa diusir.

Tadi Anda mengatakan bahwa lulusan pesantren pergi ke IAIN. Maksudnya? Apakah pandangan Anda ini dapat mewakili pernyataan bahwa kajian Islam di perguruan tinggi Islam bersifat konservatif dan dogmatis?

Saya tidak tahu. Tapi masalah konservatif, memang pada umumnya begitu. Konservatif artinya, di IAIN didasarkan Alquran dan Hadits boleh pakai pendekatan antropologi, sosiologi, tapi jangan ambil kesimpulan yang melawan yang diajarkan. Tidak mungkin ada dosen IAIN bilang Alquran itu salah. Mungkin penafsiran terhadap Alquran dan Hadits itu yang salah. Itu bisa jadi. Tapi tidak mungkin ada yang bilang ayat Alquran salah. Tidak mungkin karena konservatif.

Bagaimana tanggapan masyarakat Amerika, khususnya Amerika Utara, terhadap temuan-temuan Anda?

Banyak yang tidak tahu dan tidak mau tahu, tapi ada yang menolak. Karena mereka punya anggapan, orang Islim itu harus ditakuti. Mungkin mereka juga tidak tahu. Ini memang kesepakatan dari FBI (Federal Bureau of Investigation). Saya lupa jawab ini tadi. Jadi, ada orang Amerika yang sudah bisa terima, tidak semua orang Islam teroris, tapi mereka bilang hampir semua teroris itu Islam. Tapi ternyata tidak. Itu terbukti salah. Dalam kasus-kasus FBI untuk terorisme di Amerika, hanya kurang dari 10 persen dilakukan oleh orang yang mengaku Islam, lebih banyak yang mengaku Yahudi.

Dari penelitian Anda, apakah Anda menemukan persamaan dan perbedaan antara perguruan tinggi Islam di Indonesia, Timur Tengah, dan Barat?

Saya tidak bisa membahas terlalu banyak, hanya tahu sedikit. Tapi ada perbedaan yang sangat penting. Terutama kalau IAIN mau menjaga kepentingan jurusan-jurusan agama kalau jadi UIN.

Di Amerika pakai sistem general education. Itu berarti ada minimal SKS (Sistem Kredit Semester) yang harus diambil oleh setiap mahasiswa dari beberapa jurusan. Misalnya, ilmu sejarah, kimia, atau ilmu-ilmu yang lain. Kalau diterapkan di IAIN, berarti semua mahasiswa harus ambil satu mata kuliah dari Jurusan Dakwah, Tarbiyah, Syariah, dan Ushuluddin.

Di IAIN ini aneh. Aneh sekali. Kedokteran mau menjadikan satu mata kuliah untuk etika Alquran, mereka kerjakan gurunya (dosen) sendiri, walaupun di kampus ada yang bisa. Mahasiswa TH (Tafsir Hadits) atau Syariah ada yang bisa menyampaikan mata kuliah Alquran. Kenapa tida cari bantuan dari fakultas itu untuk menyampaikan mata kuliah untuk “anak” Kedokteran. Itu juga bisa menjaga keberadaan fakultas-fakultas agama di kampus semacam UIN.

Ada contoh lain juga di universitas di Amerika. Semua mahasiswa di bidang apa pun harus ambil dua mata kuliah agama. Satu tentang Perjanjian Lama, yang satu lagi Perjanjian Baru. Jurusan Biologi harus ikut, Antropologi harus ikut, semuanya harus ikut. Dan tiga kali seminggu minimal harus ikut “pengajian” dan memang ada absen hadirnya. Kalau tidak ikut, tidak boleh lulus, bisa diusir.[]