Rusunawa Bintang Lima

Saya berencana ke UIN Jember besok, menjenguk anak lelaki saya. Namanya Nujaimi Alvin. Kemarin sore, seseorang yang mengaku temannya mengabarkan, Alvin tengah sakit–badannya panas-dingin. Dokter yang memeriksanya memvonisnya terkena gejala typus.

Keesokan harinya pukul 10.00 WIB, saya dan istri saya, Alona Venesia, meluncur ke kampus UIN Jember. Kami mengendarai Vespa Hoffman keluaran tahun 1952-an, yang telah dimodifikasi sedemikian “keren”. Sekitar seperempat jam kemudian, kami tiba disana. Kala itu, matahari angkuh menyengat ubun-ubun. Saya memarkir “kuda besi” saya di tempat parkir di sebelah utara gumuk.

Saya melangkah menuju gedung ma’had. Sementara Alona, saya suruh menunggu di pos tamu di utaranya Gedung Sudali–nama pengganti Gedung Surya Dharma Ali setelah IAIN Jember beralih status menjadi UIN Jember.

Sebenarnya, saya tidak tega menyuruhnya menunggu di pos tamu sendirian. Tapi, karena tamu perempuan dilarang masuk ke ma’had putra–begitu pula sebaliknya dengan ma’had putri–, mau tak mau Alona saya tinggalkan seorang diri di pos tamu.

Masuk gedung ma’had, saya harus memenuhi beberapa prosedur. Pertama, menunjukkan kartu pengunjung yang menunjukkan orang tua wali. Kedua, mengisi daftar pengunjung. Ketiga, menyerahkan barang bawaan–temasuk makanan–kepada petugas untuk diperiksa.

Setelah melakukan semua prosedur, saya bergegas menuju kamar Alvin. Kamarnya berada di lantai lima paling atas. Saya kesana menggunakan lift, fasilitas yang disediakan kampus untuk memudahkan akses ke lantai atas.

Sesampainya di lantai atas, seorang lelaki seumuran Alvin menghampiri saya dan menghentikan langkah saya. Dia menyalami saya dan memperkenalkan diri. Namanya Rehan, asal Thailand. Disusul kemudian sekitar tujuh orang keluar dari kamar dan turut menyalami saya. Selanjutnya, mereka berpamitan keluar, memohon izin tidak bisa menemani saya, dikarenakan ada perkuliahan. Hanya Rehan yang masih menemani saya.

Alvin tengah terlelap saat saya membuka pintu di kamarnya. Rehan hendak membangunkannya– barangkali ingin mengabarkan kedatangan saya. Namun, saya melarangnya. Saya pun memeriksa tensi badannya dengan meletakkan punggung tangan kanan saya di keningnnya. Panas. Tangan saya seolah terbakar api.

Di luar kamar ramai terdengar suara laki-laki. Sepertinya mereka tengah bergurau. Mereka pula terdengar asyik mengobrol, sesekali diselingi cekakak-an.

Ah, saya jadi teringat saat menjadi penghuni ma’had dulu, saat masih berstatus IAIN Jember. Telinga saya sempat menangkap yang mereka obrolkan. Satu obrolan yang tak bisa lepas dari dunia remaja, yaitu wanita. Ternyata obrolan para remaja tentang wanita pada zaman saya masih remaja sekitar tahun 2017 hingga sekarang memasuki tahun 2034, tak jauh berbeda.

Alvin masih terlelap. Saya sempatkan melihat-lihat pemandangan UIN Jember dari lantai lima. Begitu jendela kamar saya buka, angin sepoi-sepoi berhembus. Sejuk. Saya dapat melihat ke sekitar kampus. Gumuk yang dulu masih gundul kini telah disulap dengan beton berpundak. Di sekelilingnya ada sekitar delapan gazebo. Di dasar gumuk sebelah utara ada sebuah musholla, bercat hijau.

Sementara di sebelah barat gedung ma’had putra juga menjulang gedung ma’had putri, yang dulu ketika masih berstatus IAIN Jember ditempati ma’had putra. Tapi sayang, saya tidak bisa melihat mahasiswi penghuni ma’had putri beraktivitas, “batang hidung”-nya pun juga tidak. Karena, ada tembok pembatas yang memisahkan antara ma’had putra dan ma’had putri.

Lagi-lagi berbeda dengan semasa saya masih menjadi penghuni ma’had putra, yang saat itu masih berstatus IAIN Jember. Kami–para mahasiswa penghuni ma’had putra–masih bisa berinteraksi dengan mahasiswi penghuni ma’had putri, mulai saling melambaikan tangan, saling melihat aktivitas masing-masing, saling sapa, bertukar kata “hai” atau “halo”, sampai saling lempar kertas yang berisi tulisan, seperti puisi.

Kini, saya mengalihkan pandangan kepada Alvin. Dia masih tak bergeming. Akhirnya, saya berpamitan kepada Rehan untuk turun ke bawah menemui istri saya. Dan, kembali lagi ketika Alvin terbangun dari tidurnya. Tidak lupa saya berpesan kepada Rehan agar memanggil saya dengan memberi isyarat dari jendela kamar apabila Alvin terbangun dari tidurnya.

Akhirnya, saya pun turun ke lantai bawah. Tapi kali ini saya tidak menggunakan lift. Karena, kata petugas bagian lantai atas, lift-nya rusak. Satu-satunya jalan alternative, ya, lewat tangga.[]