Ricuh Aksi Demo Mahasiswa dan Kronologi Isu Keringanan UKT UIN KHAS Jember

JEMBER – Pada Jumat (18/2) aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember kembali terjadi. Aksi ini dilaksanakan oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Penolakan Penindasan Kepada Mahasiswa (PPKM) Jilid II yang menuntut pemberian hak-hak mahasiswa. Hak yang dimaksud adalah penyetujuan pengajuan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa yang terdampak pandemi COVID-19. Namun, pada hari Minggu (20/2) terjadi kericuhan demonstrasi mahasiswa yang berlangsung di area segitiga UIN KHAS Jember.

Kericuhan tersebut diawali dengan adanya beberapa satpam dan orang tidak dikenal memaksa untuk masuk ke wilayah kampus. Padahal pada saat itu gerbang kampus masih diblokade oleh massa aksi. Beberapa orang tersebut memaksa masuk ke area kampus yang kemudian menyebabkan aksi saling dorong dan situasi menjadi tidak kondusif. Ketika kericuhan masih berlangsung, Rektor UIN KHAS Jember, Babun Suharto, ada di lokasi kejadian. Namun terlihat tidak berani melerai massa dan berusaha menghindar dengan gestur sedang menelepon seseorang.

Selama aksi saling dorong berlangsung, banyak tindakan respresif yang dilakukan satpam dan orang tidak dikenal yang mengatasnamakan warga setempat. Tindakan tersebut mengakibatkan banyak mahasiswa yang mengalami luka-luka dan sesak nafas. Sementara ini, baru diketahui empat nama korban yang mengalami tindakan kekerasan: Abdul Muis, Muhammad Lutfil Hakim, Muhammad Alfin Rusdi dan Muhammad Ridho Al-Faris, yang dikeroyok, ditendang sampai mengalami sesak nafas dan cedera di beberapa bagian tubuh. Korban-korban tersebut kemudian dilarikan ke puskesmas terdekat untuk langsung mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Dikutip dari live instagram akun @hmps.spi.uinkhasjember, setelah kondisi cukup kondusif, Wakil Rektor (Warek) III Bidang Kemahasiswaan, Hefni Zain, mengajak audiensi para perwakilan massa aksi. Warek III menyampaikan akan melakukan rapat pimpinan terlebih dahulu untuk menanggapi demonstrasi penuntutan hak mengenai keringanan UKT mahasiswa ini. Massa aksi pun mendesak kepada pihak rektorat untuk segera memberikan hak ribuan mahasiswa yang mengajukan keringanan. Namun, terkait tanggapan Rektor UIN KHAS Jember, Babun Suharto, tentang aksi demonstrasi dan kericuhan PPKM JILID II, ia tetap menolak tuntutan yang diberikan massa aksi dan membiarkan ribuan mahasiswa untuk cuti bagi yang tidak membayar UKT.

Kronologi Isu Pengajuan Keringanan UKT UIN KHAS Jember

Pada hari Selasa (8/2), Republik Mahasiswa (RM) UIN KHAS Jember menginstruksikan kepada seluruh mahasiswa yang akan mengajukan keringanan UKT, untuk menunggu keputusan final dari rektorat mengenai penyerahan berkas yang dibutuhkan. Kemudian pada hari Rabu (9/2), RM memberikan instruksi untuk mengisi formulir online pengajuan keringanan UKT dan menyerahkan berkas hardcopy ke bagian akademik universitas. Kemudian disusul dengan rilisnya pakta integritas dari pihak rektorat yang ditandatangani oleh Warek III dan diketahui oleh pihak RM yang mana adalah Senat Mahasiswa (SEMA) dan Dewa Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN KHAS Jember. Pakta integritas tersebut berisi tentang besaran minimal keringanan UKT sebesar 45%, penyerahan berkas keringanan UKT sampai Jumat (11/2), perpanjangan masa pembayaran UKT sampai Senin (14/2) bagi yang tidak mengajukan keringanan dan Jumat (18/2) bagi yang mengajukan.

Kemudian pada Kamis (17/2) terbit Surat Keputusan (SK) Rektor UIN KHAS Jember mengenai nama-nama mahasiswa yang mendapatkan persetujuan keringanan UKT. Namun, pada SK tersebut hanya 545 mahasiswa yang disetujui, padahal total mahasiswa yang mengajukan mencapai lebih dari 4000 mahasiswa. Hal ini dianggap tidak masuk akal dan tidak argumentatif oleh para mahasiswa. Sehingga pada keesokan harinya, Jumat (18/2), Aliansi Penolakan Penindasan Kepada Mahasiswa melaksanakan demonstrasi di depan gedung kampus UIN KHAS Jember dan melakukan blokade pintu masuk serta kegiatan-kegiatan di gedung kampus.

Presiden Mahasiswa UIN KHAS Jember, Muhammad Zakaria Drajat Dahlan mengimbau mahasiswa yang mengajukan keringanan untuk tidak membayar UKT terlebih dahulu, menunggu sampai pihak rektorat memberikan hak para mahasiswa. Tetapi apabila mampu, dipersilakan membayar karena pembayaran UKT ini berpengaruh dengan keberlangsungan perkuliahan mahasiswa. Massa aksi akan melakukan advokasi secara damai hingga pihak rektorat mendengar keluhan mahasiswa.

Sementara itu, periode pembayaran UKT yang awalnya diperpanjang sampai Senin (21/2), kembali diperpanjang lagi sampai Senin (28/2) pukul 23.59 WIB. Lalu bagi mahasiswa yang tidak membayar sampai tenggat waktu yang diberikan, disarankan untuk mengajukan cuti dan akan dilayani sampai Selasa (1/3). Namun, sampai hari ini, Rabu (23/2), dari hasil pendataan yang dilakukan oleh RM UIN KHAS Jember, masih terdapat lebih dari 4000 mahasiswa yang belum membayar UKT karena menunggu jawaban dari pihak rektorat atas tuntutan yang diberikan. Sehingga ribuan mahasiswa tersebut juga masih belum bisa melakukan pengurusan Kartu Rencana Studi (KRS). Meskipun seperti itu, perkuliahan semester genap tahun akademik 2021/2022 tetap dimulai pada kemarin, Selasa (22/2).

Reporter: Regita, Rifa

Editor: Mala