“Revolusi Mental” ala Jepang

Jika kita seorang penikmat film laga Jepang, pasti kita tidak asing dengan beberapa film berikut seperti Rouroni Kenshin, 47 Ronnin dan juga The Last Samurai. Ada juga film anime Inuyasha yang juga cukup dikenal di kalangan anak-anak Indonesia. Jika ditarik benang merahnya semua film diatas memiliki satu kesamaan, yaitu mengisahkan cerita tentang Samurai, Pendekar Jepang yang melegenda.

Samurai adalah bangsawan militer abad pertengahan dan awal modern Jepang. Istilah Samurai pada awalnya digunakan untuk menyebut orang yang mengabdi kepada para bangsawan. Berawal dari kata saburau yang populer pada zaman Nara (710-784 M), yang pengucapannya bergeser menjadi saburai.

Pada zaman Kamamura abad ke-12, arti kata saburai bersisian dengan “bushi”, yang berarti: orang yang dipersenjatai. Lantas, kata saburai berubah menjadi Samurai pada zaman Azuchi-Momoyama (1573-1600 M) dan awal zaman Edo (1603 M), yang memiliki arti “orang yang mengabdi”. Pertempuran yang berkepanjangan masa itu, menimbulkan kematian di kalangan penguasa sehingga banyak Samurai kehilangan tuannya. Mereka menjadi sekelompok Samurai liar dan tidak terikat yang disebut dengan istilah ronin. Istilah ini muncul pertama kali pada zaman Muromachi (1392 M), dan semakin definitif pada zaman Edo (1603-1867 M).

Ada beberapa istilah lain dari Samurai diantaranya adalah Buke yang berarti Ahli bela diri, Kabukimono (Perkataan dari kabuku atau condong, ia merujuk kepada gaya Samurai berwarna-warni), Mononofu (Panglima), Musha (Bentuk ringkasan Bugeisha yang secara harafiah berarti pakar bela diri dan Tsuwamono -Istilah silam bagi tentara yang ditonjolkan oleh Matsuo Basho dalam haiku terkemukanya – yang secara harafiah berarti orang kuat.

Samurai memiliki posisi yang unik dalam struktur kekuasaan Jepang pada masa lalu. Berawal dari kekacauan politik akibat pajak yang berat dan memicu pemberontakan dibanyak tempat, penjarahan terhadap tuan tanah memaksa mereka mempersenjatai keluarga dan para petani, dari sinilah awal mula lahirnya kelas Samurai. Pada masa Hojo (1199-1336 M), ajaran Zen berkembang di kalangan Samurai dan menjadi gerakan massal yang melahirkan ciri bahwa para Samurai menganut paham keseimbangan dalam falsafah hidup mereka.

Jalan hidup Samurai yang mengambil inti ajaran Zen, menekankan bahwa ketenangan jiwa dan keyakinan hati adalah sumber kehidupan. Selain itu juga para Samurai menerapkan disiplin tinggi didalam setiap tindak tanduknya. Bahkan yang lebih menarik ajaran zen ini juga merambah kedunia sastra dan berpengaruh besar terhadap karya-karya sastrawannya. Seperti yang ada pada puisi Jepang yang terkenal dengan nama haiku yang ditulis oleh Matsuo Basho.

Didalam puisinya ia tidak hanya menampilkan puisi secara biasa, namun ada “seni” yang lain dibaliknya. Yakni seni dalam cara memandang (atau mengalami) hidup yang menolak segala perumusan karena logikanya bukanlah rasionalisasi seperti kebanyakan metode berpikir barat. Didalamnya terdapat kesederhanaan yang menghindari pencanggihan sastra. Namun justru dibalik kesederhanaannya tersebut terungkap kecanggihanya.

Selain ajaran zen yang menghiasi kehidupan seorang Samurai yang diadopsi dunia sastra Jepang. ada juga ritual yang lebih ekstrim dilakukan oleh seorang Samurai yaitu harakiri atau seppuku. Seppuku, adalah tindakan bunuh diri dengan cara menyobek perut. Seppuku sangat populer dalam mitos Samurai. Ia dianggap sebagai tindakan gagah berani. Apalagi jika Samurai tersebut merasa melakukan suatu kesalahan yang merugikan negara, maka jalan terbaik adalah dengan mengakhiri hidupnya. Walaupun di kemudian hari ajaran ini menimbulkan kontroversi.

Tidak hanya Samurai, dua orang sastrawan Jepang juga melakukan hal yang sama karena merasa gagasan patriotismenya gagal mendapatkan dukungan. Yukio Mishima bunuh diri pada 1970. Awalnya ia merobek perutnya dengan tanto (sejenis pedang pendek) lalu seseorang yang disebut khaisakunin membantu memenggal kepalanya. Ritual seppuku ini dilakukan mishima di Markas Kementerian Pertahanan di Tokyo.

Ia memuja semangat berani mati para Samurai di masa lalu, bahkan ia juga membentuk sebuah organisasi yang berupaya mengembalikan kejayaan para Samurai dan keagungan kaisar. Dua tahun setelah kematian Mishima, Yasunari Kawabata bunuh diri dengan menghirup gas. Secara kebetulan, mereka berteman baik. Kawabata adalah penulis Jepang pertama yang memperoleh hadiah nobel di bidang sastra.

Semua ini adalah berakar pada ajaran bushido Samurai. Bushido pada awalnya adalah kode etik kepahlawanan kaum Samurai dalam feodalisme Jepang. Berdasarkan sumbernya, bushido berasal dari ajaran Budha dan Shinto. Bushido yang telah menjadi prinsip hidup orang Jepang berisikan ajaran tentang kesetiaan, kejujuran, etika sopan santun, tata krama, disiplin, rela berkorban, kerja keras, kebersihan, hemat, kesabaran, ketajaman berfikir, kesederhanaan, serta kesehatan jasmani dan rohani.

Bushido menjadi asas moral yang harus dihayati kalangan ksatria. Bushido juga menjadi pengganti pelajaran agama dan pedoman moral serta etika bangsa Jepang. Tidak heran jika nilai-nilai bushido sangat terpatri dalam jiwa bangsa Jepang hingga saat ini.

Dengan semikian, dapat dikatakan di masa sekarang ini tidak ada pendidikan karakter khusus dalam masyarakat Jepang, karena karakter mereka sudah terbentuk sejak dahulu kala dengan mentransformasikan ajaran-ajaran bushido dalam kehidupan mereka sehari-hari. Norma masyarakatlah yang menjadi hukum sosial yang mengontrol kehidupan masyarakat dalam masalah moral dan beretika.

Semangat bushido yang telah terpatri hingga kini dalam kehidupan masyarakat Jepang serta kesadaran sangat mendalam dari setiap warga Jepang dalam mentaati semua peraturan yang berhubungan dengan norma-norma masyarakat telah menjadikan Jepang menjadi negara yang aman, tertib dan sadar moral. Semangat bushido yang telah menjiwai kaum Samurai selama beberapa abad itu, sampai kini masih hidup, namun bukan dalam bentuk semangat untuk berperang atau mengabdi kepada komandan.

Semangat bushido yang telah menghidupkan dan mengembangkan ekonomi dan industri Jepang adalah semangat berdisiplin tinggi, bekerja keras, bertanggung jawab dan punya rasa malu bila melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Hematnya, implementasi bushido dapat diartikan sebagai pendidikan karakter kolektif dari nilai-nilai sosial budaya yang ada dalam pengembangan masyarakat ke arah yang konstruktif.

Bushido dan Revolusi Mental

Secara umum Jepang memiliki sumber daya alam yang terbatas, kondisi geografisnya pun kurang menguntungkan karena sering dilanda gempa apalagi pasca pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Tentara Sekutu membuat Jepang luluh lantak dan berada di titik terbawah namun karena memiliki sumber daya manusia yang kompetitif, Jepang dapat dengan cepat “berlari” mengejar ketertinggalannya. Semua ini dimulai dari pembentukan sikap yang sarat nilai-nilai dalam ranah afektif yang ditanamkan bagi warganya.

Hal yang sama juga terjadi pada Singapura. Negara kecil ini sanggup memainkan peranan penting dalam ranah ekonomi internasional. Tak hanya menjadi konsumen tapi juga menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dunia. Secara linear Singapura memiliki kesamaan dengan Jepang, yaitu pembentukan sikap dan mental yang positif dan mendorong warganya untuk produktif. Hal ini dimulai dari hal yang sederhana yaitu dengan menanamkan sikap jujur dan disiplin kepada warganya.

Secara metaforis berbeda dengan Indonesia, yang kerap kali menceritakan kisah “Kancil mencuri Timun”, secara implisit kisah ini mengisyaratkan perilaku koruptif yang terkandung dalam ceritanya, sehingga secara praduga bisa kita sangka jika cerita ini mengendap di alam bawah sadar rakyat Indonesia dan berpengaruh pada tingginya tindak pidana korupsi yang terjadi di Indonesia. Inilah dampak dari “gunung es” dari pengendapan nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah produk kebudayaan.

Indonesia tentu dapat mengambil ibrah dari negara maju diatas. Pembangunan yang dilakukan oleh negara maju tersebut berjalan efektif karena secara praktiknya mereka menyasar ke dasar dan esensi dari motor pembangunan itu sendiri, yaitu sumber daya manusia. Berbeda dengan Indonesia yang menganggap pembangunan lebih kepada pengolahan berbagai sumber daya yang ada dan pembangunan infrastrukutur, namun kurang memperhatikan sumber daya manusianya.

Maka besar harapan kita kepada pemerintahan yang belum genap setahun ini untuk dapat merealisasikan janji revolusi mental untuk rakyat Indonesia. Seperti jargonnya saat kampanye dahulu. Tentunya dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti membiasakan diri untuk berperilaku jujur, tertib dan disiplin. Hal sederhana ini akan berdampak besar jika dijalankan dengan maksimal. Jujur dapat menekan perilaku koruptif seseorang terhadap sesuatu, tertib akan mampu meciptakan harmoni dalam lingkungan dan disiplin akan menjadikan seseorang tepat waktu dan memiliki prioritas.

Hal yang lain yang tak kalah pentingnya adalah supremasi hukum yang mengatur aturan tersebut. Jangan sampai hukum hanya berlaku untuk kalangan tertentu saja akan tetapi hukum benar-benar tegak demi keadilan. Selain itu pemerintah juga dapat mendorong untuk setiap warganya kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Karena hanya orang kreatif yang dapat menemukan jalan diantara kebuntuan persaingan global.

Jepang melakukan pembangunan karakter tersebut dengan mengadopsi nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaannya, maka sepatutnya kita sebagai negara Indonesia yang justru memiliki lebih banyak dan lebih kaya kebudayaannya untuk menurunkan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap kebudayaan tersebut kedalam tindak tanduk warganya. Maka harapan akan masa depan terbuka luas demi Indonesia yang lebih baik.[]