Pro Kontra warnai PEMIRA IAIN Jember

Ilustrasi oleh : Habiba/Millenium


Jember – Pemilihan Raya (PEMIRA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember telah berlangsung pada Kamis (29/4) secara online. Pelaksanaan PEMIRA diwarnai pro dan kontra di kalangan mahasiswa yang diduga terdapat kecurangan dalam proses pemilihan.

PEMIRA tahun ini menjadi pemilihan raya pertama yang diselenggarakan oleh pihak Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPU-M) secara online. Dalam pemilihan ini KPU-M menetapkan pasangan Mohammad Zakaria Drajat Dahlan dan Abdullah Ikin Ranis menjadi Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa IAIN Jember periode 2021/2022.

Dalam berita acara yang diterbitkan oleh pihak KPU-M, suara keseluruhan E-TPS sebanyak 14.856 suara. Akan tetapi, partisipasi mahasiswa yang menggunakan hak suaranya sekitar 51,4% atau 7.630 suara yang sah dalam penghitungan KPU-M. Sekitar 48,6% atau 7.226 suara tidak dipergunakan atau golput. Perolehan suara yang didapatkan oleh masing-masing Pasangan Calon (Paslon) hanya terpaut 171 suara sah.

Paslon nomor urut 1 mendapat 3901 suara sah dan paslon nomor urut 2 mendapat 3730 suara sah. Jika di hitung keseluruhan jumlah suara sah paslon nomor urut 1 dan 2 maka di peroleh angka 7631. Sedangkan jumlah suara yang sah 7630. Terdapat selisih satu suara sah yang menjadi polemik di tengah kalangan mahasiswa.

Kekecewaan dirasakan oleh keluarga besar Hukum Tata Negara (HTN 2) angkatan 2020 dengan membuat surat pernyataan sikap yang berisi lima poin tuntutan bahwa mereka merasa ada kecurangan dalam proses pemilihan ini. Hal senada dirasakan oleh Rizieq Umar salah satu mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan menyatakan bahwa salah satu kekurangan dalam pemilihan online, terdapat adanya peluang kecurangan yang besar.

Menanggapi opini dan spekulasi dugaan kecurangan yang berkembang di kalangan mahasiswa lewat media sosial WhatsApp dan Instagram, Choirul Anam selaku Ketua Senat Mahasiswa Institut (SEMA-I) menjelaskan bahwa terkait opini publik yang tidak ingin berpartisipasi dalam pelaksanaan PEMIRA setiap tahun memang terjadi dan dianggap sebuah hal yang wajar. “Terkait laporan pengaduan, sudah ada prosedurnya. Untuk masalah akun yang tiba-tiba memilih itu bukan karena kesalahan sistem, akan tetapi bisa karena kebocoran data dan juga hal lainnya,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan pemilihan Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut (DEMA-I) atau presiden mahasiswa, di barengi dengan pemilihan Ketua DEMA-F setingkat fakultas di IAIN Jember. Dimana setiap fakultas hanya ada satu kandidat paslon yang lolos seleksi sehingga setiap fakultas sistem pemilihannya dilakukan secara aklamasi. “Serta untuk kandidat Paslon yang aklamasi harus memenuhi syarat dengan memperoleh 100 suara sah,” tambahnya.

Pelaksanaan PEMIRA dinilai dipaksakan dan dilakukan dengan waktu yang singkat. Lobabur Rohman selaku Ketua KPU-M menyatakan bahwa jangka waktu pemilihan sudah sesuai, melihat di tahun sebelumnya pemilihan offline dilaksanakan hanya dalam waktu satu hari. Sebagian mahasiswa melihat pelaksanaan PEMIRA online berjalan efektif. “Lebih mudah online karena bisa menghemat biaya dan mematuhi protokol kesehatan,” ungkap Hafiz selaku mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah

Pihak KPU-M menyatakan telah melakukan tugas dengan maksimal terkait persiapan PEMIRA termasuk sistem/web yang akan dipakai. Untuk menanggapi terkait pro dan kontra di kalangan mahasiswa pihak KPU-M belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut hingga berita ini terbit.

Penulis : Dyah /Millenium

Editor : Mala,Riko