Pesantren Putri Dibubarkan

Program tinggal di asrama selama satu tahun sepertinya benar-benar akan diterapkan bagi mahasiswa baru Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Sebanyak 1.800 mahasiswa yang diterima di IAIN Jember itu akan digembleng dengan kegiatan membaca dan menulis Alquran. Harapannya, lulusan IAIN Jember mampu membaca dengan lancar dan fasih. Sekaligus mampu menulis bahasa arab dengan baik dan tepat.

Demikian harapan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama IAIN Jember Sukarno. Haparan itu disampaikannya pada acara sosialisasi pembubaran pesantren putri IAIN Jember, Senin malam (1/8) yang lalu di musholla pondok pesantren putri.  Dia menilai, masih ada lulusan IAIN Jember yang belum bisa membaca Alquran.

“Hasil evaluasi yang telah dilakukan menyatakan bahwa masih ada lulusan IAIN Jember yang belum bisa membaca Alquran, dan itu sangat memalukan,” kata Sukarno.

Demi terlaksanya program itu, Sukarno memerintahkan agar pesantren putri tersebut segera dikosongkan. Alasannya, selain karena akan direnovasi, pesantren putri tersebut akan ditempati oleh mahasiswa baru. “Kalian harus mengosongkan tempat ini (pesantren putri), karena akan ditempati penghuni baru, dan tanggal 8 Agustus sudah ada tukang yang akan merenovasi,” tegasnya.

Keputusan secara sepihak itu membuat peserta tidak mampu menahan isak tangis. Peserta yang biasa disebut mahasantri di pesantren putri itu ada pula yang merasa kecewa. Seperti halnya yang dialami oleh Dewi Istifadah. Mahasiswi semester tiga Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah, itu merasa kecewa karena kuputusan tersebut mendadak. Di samping itu, surat keputusan pembubaran pesantren putri tidak dikeluarkan oleh kampus.

“Seharusnya kampus (IAIN Jember) memberikan solusi atau jalan keluar. Tidak seperti ini, malah memberikan masalah tanpa solusi. Sungguh mengecewakan,” ungkap mahasiswi yang kerap dipanggil Tifa.

Selain Tifa, Balqis Mardiatus S juga mengalami hal yang sama. Saat acara pertemuan sosialisasi pembubaran pesantren putri, mahasiswi semester tujuh Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah, itu sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Dia mengaku terkejut saat mendengar  informasi pembubaran pesantren putri tersebut dari temannya.

Di samping itu, Balqis juga merasa kebingungan mencari tempat tinggal baru. Menurutnya, kosan dan kontrakan di sekitar kampus penuh. “Pengumuman ini terlalu mendadak. Saya kecewa, karena tidak ada persediaan tempat untuk saya dan teman-teman ketika kami dipindah,” kata Balqis.

Hal yang sama juga dirasakan Lilis Septi U. Mahasiswi semester lima Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah yang juga menjabat sebagai ketua Organisasi Pesantren Putri (OPP) IAIN Jember, itu juga tidak mampu menutupi kekecewaannya. Saat diadakannya pertemuan sosialisasi pembubaran pesantren putri itu, dia sedang mengikuti kursus bahasa arab di Pare, Kabupaten Kediri.

Dikarenakan pesantren putri segera dikosongkan sebelum tanggal 6 Agustus 2016, Lilis terpaksa pulang ke Jember untuk mengamankan barang-barangnya. “Saya sangat kecewa banget, kaget, bingung. Belajar (kursus) di Pare tidak maksimal, uang hangus,” ungkap Lilis yang juga kecewa kepada pihak IAIN Jember yang tidak memberikan tempat tinggal sementara untuk menampung barang-barang warga pesantren putri. []