Mempertanyakan Pembangunan Prioritas Pasca Alih Status

Tanggal 19 Desember 2015, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember genap berusia setahun sejak beralih status dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN). Kita bersyukur akan peralihan status tersebut. Namun sejauh ini belum nampak perubahan yang signifikan, kecuali pembangunan beberapa gedung dan penambahan prodi baru. Dilain sisi pembangunan gedung khususnya ruang kelas tak juga mencukupi bagi membludaknya jumlah mahasiswa baru yang merupakan dampak dari pembukaan sejumlah prodi baru. Selain mahasiswa, orang tua pun mempertanyakan kenapa sampai sekarang masih ada perkuliahan malam. Entah itu yang anaknya berangkat dari rumah atau yang bertempat tinggal disekitar kampus. Bukankah sudah beralih status menjadi IAIN tapi kenapa fasilitas yang paling urgen tak jua kunjung mencukupi.

Kampus IAIN ‘rasa’ STAIN. Tak nampak perbedaan yang signifikan pra dan pasca alih status. Sarana berupa ruang kelas menjadi komponen pokok kebutuhan mahasiswa agar terciptanya Kegiatan Belajar Mengajar yang kondusif, aman dan nyaman. Berulang kali kritikan dilontarkan oleh orang tua mahasiswa, terlebih mahasiswa IAIN Jember sendiri. Saat ada pertemuan wali mahasiswa, para orang tua pun tak luput mempertanyakan kapan perkuliahan malam dihapuskan? Alih-alih malah membangun lapangan sepak bola yang penggunaan dan kebutuhannya bisa dihitung jari. Mahasiswa belum membutuhkan tempat luas dan megah untuk menunjang kesehatan jasmaninya. Kegiatan organisasi kampus yang bergerak dibidang olahraga pun seringkali melakukan kegiatan diluar kampus. Olahraga bisa dilakukan dimana saja jika punya kemauan dan kesempatan, apalagi IAIN belum memiliki jurusan bidang olahraga.

Kita hargai kerja birokrasi yang mencoba memberikan bukti kinerjanya lewat pembangunan lapangan sepak bola, basket dan gedung teater yang kini tengah dalam proses pembangunan. Dibalik itu semua ada hak yang belum terpenuhi, birokrasi dan stakeholder harus ingat akan hal tersebut. Kebutuhan akan lapangan olahraga bisa satu bulan sekali, 6 bulan sekali atau bahkan digunakan ketika pertemuan wali mahasiswa saja. Sedangkan KBM terus menerus berlangsung setiap hari.

Sumbangsih prestasi belum terukir lewat adanya lapangan sepak bola yang begitu luas tersebut. Namun berbagai pemikiran, pendapat dan opini banyak dilahirkan dari ruang-ruang kelas yang berisi diskusi dan kegiatan akademik.

Akan semakin banyak fasilitas umum dikorbankan untuk kepentingan KBM. Ruang VIP kampus yang biasanya digunakan untuk kegiatan rapat, kegiatan UKM dan UKK kini digunakan untuk KBM. Masjid sebagai tempat ibadah terpaksa digunakan untuk perkuliahan. Alhasil pemahaman yang didapatpun tidaklah maksimal dikarenakan penyelenggaraannya tidak sekondusif perkuliahan didalam kelas. kuliah hanya ala kadarnya tanpa mengutamakan pemahaman mahasiswa dan ujungnya kualitas mahasiswapun dipertanyakan.

Dari tahun ke tahun IAIN meningkatkan kwantitas penerimaan mahasiswa baru. Dalam artian akan ada banyak lagi mahasiswa yang melakukan KBM dimalam hari, mahasiswa yang kebingungan mencari kelas untuk melaksanakan KBM serta dosen yang ogah-ogahan mengajar di malam hari. Kesibukan mahasiswa ataupun dosen tidaklah sama. Adakalanya mereka harus membagi waktu dengan keluarga, kerja dan kuliah. Tidak semua dosen dan mahasiswa berdomisili disekitar kampus, mereka banyak yang berasal diluar Kaliwates seperti halnya Balung, Ambulu, Patrang, Tanggul bahkan luar Kabupaten Jember seperti Bondowoso, Situbondo dan Lumajang.

Masih menjadi impian yang sulit diwujudkan rasanya ketika prioritas perbaikan sarana dan prasarana tidak mendahulukan hal yang urgen. Banyak hal yang mesti disiapkan IAIN Jember kedepannya mengingat rektor IAIN dalam pidatonya pernah menyampaikan bahwa target penerimaan mahasiswa akan datang sekitar 2.500 orang. Flashback sedikit, apa yang sudah dicapai selama satu tahun beralih statusnya IAIN.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, masih bisa dimaklumi kinerja birokrasi belum terlihat. Namun satu tahun peralihan status STAIN menjadi IAIN hanya memupuk banyak harapan tanpa benih yang tak kunjung tumbuh. Kami masih berharap setiap pembangunan dan pengadaan fasilitas berpihak pada kebutuhan mahasiswa bukan sekedar pencitraan pribadi. Terlalu lama menunggu realisasi dari slogan-slogan kosong yang sering birokrasi lontarkan untuk terisi. Kondisi semacam ini tidak bisa terus menerus dibiarkan. Masalah kekurangan kelas gagal direspon secara cepat oleh birokrasi sehingga banyak kritikan dan kecaman disampaikan saat pertemuan wali mahasiswa. Karena itu, tidak ada lagi kata berleha-leha sebab kerja baru saja dimulai.[]