Membaca Pesantren dari Sudut Antropologi

Di beberapa kalangan masyarakat barat masih ada pandangan miring terhadap dunia pesantren. Pesantren dikaitkan dengan markas dan sumber terorisme. Namun, apa yang dilakukan oleh Ronald Lukens Bull ini justru berbanding terbalik. Dalam penelitiannya, ia justru menemukan pesantren sebagai institusi pengembangan Islam yang damai dan toleran.

“Pesantren bukan sumber radikalisme, melainkan sumber anti-radikalisme dan berusaha menegakkan perdamaian dan keharmonisan di dunia,” kata Ronald saat memaparkan materinya dalam kuliah umum dengan tema “Pesantren dalam Pandangan Antropologi” di aula pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, pada Senin (25/5) lalu.

Ronald mengatakan, Islam yang ada di Indonesia merupakan Islam sufistik. Pesantren sebagian besar mengajarkan tentang tasawuf. Menurutnya, dakwah Islam pesantren bukan dengan paksaan, melainkan dengan memperingati dan mengajak umat untuk kemaslahatan bersama.

Profesor yang sudah lama melakukan penelitian di Indonesia ini mengambarkan perumusan asas negara Indonesia dengan mencontohkan sembilan orang anggota sebagai perumus asas negara. Dengan rincian, delapan di antaranya beragama Islam, sementara satu orang beragama Nasrani. Namun, asas negara yang dihasilkan bukan asas negara Islam khilafah, melainkan asas negara yang berdasarkan Pancasila.

Sementara dalam lingkup tradisi, Ronald mencontohkan soto Kudus. Sampai saat ini menu soto Kudus menggunakan daging kerbau. “Kenapa pakai daging kerbau, tidak daging sapi,” katanya.

Menurut analisanya, Ronald menemukan, dulu menyembelih sapi dilarang oleh sunan Kudus untuk menghormati orang Hindu. Maka hingga kini soto kudus masih menggunakan daging kerbau sebagai bahan utamanya. “Inilah cermin Islam toleran yang dibawa oleh Wali Songo.”

Peran Wali Songo

Tradisi pesantren berkembang hingga sekarang tidak lepas dari peran Wali Songo. Tradisi tersebut berkaitan erat dengan Islam pertama kali datang ke Indonesia, yaitu bernuansa sufisme. Selain menjadi penganut agama, seorang muslim juga menjadi sufi.

Ronald memaparkan, ilmu tasawwuf diterapkan di pesantren sebagai pendidikan moral. Ini menjadi bekal untuk menciptakan toleransi. “Secara umum, tradisi sufi konsen pada bagaimana seseorang hidup dan bagaimana ‘melihat’ Tuhan. Kemudian, mereka bermasyarakat dan menjalankan agamanya dengan ideal,” kata dia.

Lebih lanjut, Ronald menyatakan, saat ini sudah semakin sedkit pesantren Wali Songo. Malah, terbagi menjadi bermacam-macam, misalnya pesantren salaf dan modern. “Salafi dan salafiah itu sudah berbeda. Ada juga aliran garis keras seperti ISIS yang mencari sarjana kimia dan sebagainya,” ujarnya.

Ketika pesantren mendapat campur tangan pemerintah, muncul anggapan karakteristik pesantren telah hilang. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Zubaidi, mahasiswa pascasarjana Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Jember. “Melihat realitas yang ada, pesantren telah dikontaminsasi oleh pemerintah. Kita lihat saja, kelembagaan di pesantren, mulai dari kurikulum hingga pembangunannya yang masih mendapat bantuan dari pemerintah.”

Menanggapi hal itu, Ronald mengatakan, karena pesantren berada di Indonesia, maka harus mengikuti peraturan pemerintah. Menurutnya, hubungan pesantren dan pemerintah menjadi bagian dari perkembangan pesantren. “Ini termasuk bagian dari perkembangan pesantren. Di pesantren tradisinya kuat, tapi bisa menerima modernisasi,” ujarnya.

Khodriansyah, mahasiswa pascasarjana Program Studi Pemikiran Pendidikan Islam IAIN Jember, bertanya tentang tujuannya meneliti Islam di Indonesia. Ia menilai, Islam dianggap sebagai agama teroris di Amerika.

Ronald menanggapi hal itu dengan berapi-api. “Saya tidak menanggung dosa amerika. Saya tidak mewakili masyarakat Amerika,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ronald menambahkan, dirinya dilahirkan di maroko. Dan dalam salah satu foto masa kecilnya, ia digendong oleh wanita bercadar. Foto wanita bercadar inilah yang membuatnya bertanya-tanya. Sehingga tertarik meneliti Islam.

Di samping itu, Ronald juga mengatakan, secara ilmiah diarahkan oleh dosen pembimbingnya. “Dulu saya tertarik pada masalah agama dan modernisasi. Kalau mau mengkaji masalah modernisasi, negara, dan agama di Indonesia, yang paling pantas, Islam. Kalau masalah hubungan tradisi dan modernisasi, yang paling pantas adalah kalangan pesantren. Karena memang tradisinya kuat, tapi menerima modernisasi,” katanya.[]