Mahasiswi Tarbiyah Dilarang Bercadar

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember menerapkan peraturan etika berbusana bagi mahasiswa-mahasiswinya sejak Selasa (16/03). Tidak bercadar menjadi salah satu etika berbusana yang diterapkan. Beberapa mahasiswa-mahasiswi tidak menyetujui adanya peraturan itu.

Peraturan mengenai etika berbusana merupakan peraturan tertulis yang ditempel di tiga lokasi gedung G FTIK IAIN Jember dalam bentuk spanduk, lengkap dengan foto laki-laki dan perempuan sebagai contoh berbusana yang sesuai etika. Mahasiswa-mahasiswi yang tidak menjalankan peraturan itu akan mendapat teguran dari dosen atau pihak fakultas yang mengetahuinya.

Wakil Dekan (Wadek) Bidang Akademik FTIK IAIN Jember, Khoirul Faizin, ketika ditemui di kantor FTIK pada Senin (4/4), menyampaikan alasan tidak diperbolehkannya bercadar. Yakni, karena IAIN Jember memiliki visi Islam Nusantara, sedangkan bercadar tidak mencerminkan Islam Nusantara. Alasan lain secara umum, beberapa lembaga pendidikan yang ditempati Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) menertawakan penampilan mahasiswa-mahasiswi IAIN Jember dan sempat menolak lembaganya ditempati PPL.

Faizin mengatakan, peraturan ini dibuat atas kesepakatan bersama dengan Dekan dan seluruh Wakil Dekan FTIK. Ketika rapat PPL, beberapa dosen pembimbing lapangan menyampaikan keluhan terkait busana mahasiswa-mahasiswinya. Sehingga dirumuskan poin-poin sesuai keluhan itu. Sebelum dicetak, Faizin juga merundingkan peraturan itu dengan Dekan dan Wakil Dekan FTIK.

“Rapat PPL itu dilaksanakan sekitar dua bulan yang lalu,” ujar As’ari, salah satu dosen pembina PPL FTIK yang juga menghadiri rapat tersebut. Peraturan  itu langsung ditempel di gedung G tanpa ada sosialisasi sebelumnya pada mahasiswa-mahasiswi.

Beberapa  mahasiswa-mahasiswi tidak setuju dengan peraturan, diantaranya Suroya Yee Puteh, mahasiswi Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) kelas B2 semester dua. Menurut mahasiswi bercadar asal Thailand itu, seharusnya bercadar diperbolehkan saat berkuliah, kecuali nanti ketika lembaga pendidikan tempat ia melaksanakan PPL dua melarangnya mengenakan cadar, maka ia akan membuka cadar tersebut.

Pendapat tidak setuju disampaikan juga oleh Misnawi, mahasiswa FTIK Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah kelas D1 semester empat. Menurutnya boleh-boleh saja jika mahasiswi bercadar. Dia memberi contoh mahasiswi asal Thailand yang kesehariannya sudah terbiasa bercadar dan tidak bisa dipaksa untuk membuka cadarnya.

Salah satu mahasiswi FTIK prodi Pendidikan Agama Islam kelas A7 semester delapan, Fatimatus Zahra, pernah ditegur langsung oleh salah satu dosen ketika ia mengenakan cadar di kampus. Saat itu ia semester tujuh. Menurut mahasiswi yang biasa dipanggil Faza itu, salah satu dosen perempuam melihatnya dan langsung membawanya ke ruang Kasubag Akademik Kampus. Faza ditanya alasannya mengenakan cadar. Akan tetapi Faza bertanya balik alasan tidak diperbolehkannya becadar.

“Anda kan belum PPL dua, Mbak, otomatis kalau lembaga pendidikan yang formal tidak memperbolehkan praktikan yang mengenakan cadar,” lanjutnya, menirukan ucapan dosen tersebut.

Bagi Faza, ia belum bisa menerima alasan yang diberikan oleh dosen tersebut. Menurutnya cukup ketika PPL saja tidak mengenakan cadar, namun ketika berkuliah tetap boleh bercadar.

Terjadinya ketidakjelasan mengenai alasan tidak diperbolehkan bercadar, berakibat kurang terlaksananya tujuan yang diinginkan oleh pihak FTIK. Misalnya di spanduk etika berbusana di salah satu lokasi gedung G, ada tulisan diskriminasi dari spidol dekat dengan  kalimat tidak boleh menutup muka (bercadar). Dan ada salah satu mahasiswi yang menginginkan peraturan tidak boleh bercadar itu dihapus.

Rookaiya Koono, mahasiswi asal Thailand FTIK Prodi PBA kelas B2 semester dua berpendapat bahwa peraturan untuk tidak boleh bercadar perlu dihapus, sebab IAIN Jember merupakan kampus Islam. Rookaiya sendiri masih mengenakan cadar ketika berkuliah. Alasannya, Islam tidak melarang perempuan bercadar dan hukumnya pun bukan haram, melainkan sunnah.

Sampai saat ini belum ada sosialisasi dari FTIK terhadap mahasiswa-mahasiswinya untuk memberikan kejelasan terkait alasan diberlakukannya peraturan itu. “Selama ini belum ada sosialisasi terkait peraturan itu. Fakultas hanya menugaskan dosen-dosen FTIK untuk memberikan pesan-pesan selama perkuliahan berlangung,” kata Faizin. []