Mahasiswa Ingin Turunkan Wakil Rektor III dari Jabatan

Puluhan mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Peduli Kampus (GMPK) menyerukan aksi demonstrasi ”KOREKSI KEPEMIMPINAN WAREK III IAIN JEMBER”. Aksi ini menuntut Wakil Rektor (Warek) III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama turun dari jabatan, Senin (18/9), berlangsung di depan Gedung Rektorat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember pukul 09.15 WIB.

“Jadi latar belakang yang membuat keluh kesah kami itu, kebijakan Warek III dan tidak tegas dari Warek III,” ujar Muhammad Fiki Syamsul Arifin, Koordinator Lapangan aksi. Selain itu, ia juga mengatakan, keberpihakan Warek III serta  menyalahgunakan wewenang dan semacamnya.

Saat aksi berlangsung, massa aksi menampilkan teaterikal yang diakhiri dengan pemeran pemimpin dimasukkan ke dalam keranda, yang diangkat berkeliling di depan Sukarno. Kemudian dengan suara lantang meminta Sukarno turun dari jabatan.

Kordinator aksi menyampaikan dua poin pernyataan. Pertama, penyalahgunaan wewenang, Sukarno terindikasi menjadi dalang pemvakuman Badan Eksekutif Mahasiswa Institut (BEM-I) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Institut (DPM-I), dengan dasar chat WhatsApp Grup Keluarga Ceria dari percakapan atas nama Mad.

Kedua, Sukarno dianggap tidak tegas dalam menindak aksi premanisme dan pengrusakan fasilitas kampus, serta tidak bertanggungjawab dalam penyelesaian masalah internal terkait pemvakuman BEM-I dan DPM-I yang dilimpahkan kepada Rektor.

Massa aksi juga menuntut Sukarno untuk menindak tegas aksi premanisme dan pengrusakan fasilitas kampus, sesuai Kode Etik Mahasiswa IAIN Jember. Menyelesaikan konflik internal dalam jangka waktu 1×24 jam. Jika dalam waktu yang ditentukan tidak ada penyelesaian Sukarno diminta turun dari jabatannya.

Sukarno mengatakan bahwa ia difitnah atas tuduhan dalang pemfakuman BEM-I dan DPM-I. “Saya tidak merekayasa mereka menyegel kantor BEM-I dan DPM-I,” ujarnya.

Setelah koreksi dan tuntutan disampaikan, massa aksi meminta Sukarno menandatangani surat pernyataan. “Kami semua disini gerakan mahasiswa, ingin meminta tanda tangan kepada Pak Karno. Dan seandainya Pak Karno tidak mentandatangani, dipastikan, pasti, lihat tindakan selanjutnya,” ujar Muhammad Fikih Samsul Arifin.

Sukarno tidak bersedia menandatangani surat pernyataan meski terus didesak oleh massa aksi. Massa aksi semakin merapat dan menyegel rektorat kampus.[]