Mahasiswa IAIN Jember Alami KBGO

Akhir-akhir ini mahasiwa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) jember di resahkan dengan kasus Kekerasan Seksual Berbasis Gender Online (KBGO). Salah satu mahasiswi yang mengalami KBGO adalah Niki (nama samaran) jurusan psikologi islam semester 2 di IAIN Jember yang mengaku telah menjadi korban KBGO oleh salah satu oknum tidak di kenal.

Niki sebagai korban merasa risih dengan adanya chat yang berisi foto syur tersebut dan ia kerap kali memblokir nomor WhatsApp pelaku, namun pelaku tidak pernah kehabisan cara untuk menghubungi korban dengan sering mengganti nomer WhatsAppnya.

Korban mengaku bahwa kejadian ini telah berlangsung cukup lama yang membuat aktivitas korban terganggu. “Kejadian ini terjadi cukup lama, saya merasa risih akan hal ini. Pelaku sering mengganggu aktivitas saya, sebelumnya saya pernah bertanya siapa dan dapat nomer saya dari mana,” tutur korban. Tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaanya korban langsung memblokir nomor pelaku.

Selang beberapa bulan pelaku kembali menghubungi korban. Saat itu pelaku mengaku bahwa namanya adalah Gilang asal Bondowoso dan dia mendapat nomor Whatsapp korban dari temannya yang bernama Andre. Dalam aksi yang kedua ini korban telah di hubungi pelaku sebanyak empat kali.

Untuk ketiga kalinya pelaku menghubungi korban dengan melakukan video call terhadap korban dan beralasan mau menunjukkan jamur namun, pelaku malah menunjukkan bagian tubuh yang tidak senonoh kepada korban. Korban yang merasa risih dengan hal itu kembali mem blokir WhatsApp Pelaku karena merasa kaget dan takut dengan tindakan pelaku.

Setalah selang beberapa lama pelaku kembali menghubungi korban dengan menggunakan nomor WhatsApp baru, pelaku yang mengenalkan dirinya bernama irfan lagi-lagi membuat ulah dengan mengirimkan gambar pornografi kepada korban di mana pada saat itu korban langsung memberikan informasi kepada teman – teman dekatnya.

Tidak hanya niki, ada mahasiswi lain yang pernah menjadi korban KBGO ini. Mahasiswi berinisial SN juga pernah mengalami peristiwa serupa dengan Niki. SN menuturkan bahwa dia juga pernah mendapat panggilan video dari nomor WhatsApp yang sama dengan nomor yang menghubungi Niki. SN menuturkan bahwa pelaku juga menunjukan perilaku pornoaksi pada saat melakukan panggilan video.

Menurut catatan Komisi Nasional Perempuan, kasus kekerasan berbasis gender online meningkat sebanyak 940 kasus pada 2020 atau terdapat peningkatan tiga kali lipat dari 2019. Belum lagi kasus penyebaran konten intim non-konsensual yang jumlahnya juga meningkat sebesar 375 persen atau setara 169 kasus pada 2020.

Penelitian terakhir juga menyebutkan bahwa sebagian besar korban berasal dari generasi muda. Hal tersebut bisa terjadi karena sebagian besar yang menggunakan internet adalah anak muda baik untuk bekerja maupun belajar. Dari aspek gender, mereka yang rentan menjadi korban adalah perempuan, yaitu 71%.

Mendengar hal ini, Ketua Women’s March jember Saras Dumasari menyatakan bahwa kasus seperti ini juga pernah dialami oleh salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember. “kasus ini seperti yang terjadi dengan anak IMM Universitas Muhammadiyah di mana dia juga mendapatkan teror seperti itu” tuturnya.

Dalam kasus ini korban merasa ingin melaporkan kasusnya kepada pihak yang berwajib namun korban takut dengan ancaman dari pelaku. Saras menegaskan bahwa dia akan membantu untuk memberi ruang aman terhadap korban. ” Kami akan membantu apapun yang di inginkan korban dalam kasus ini,” tambahnya.[]

Penulis dan ilustrasi : Aab/Millenium

Editor : Nanda/Millenium