Lampu Jurusan

Dua tahun lalu, tepatnya 2034, saya dilantik menjadi Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). Memasuki tahun 2036 ini, tak lupa saya sempatkan berkunjung ke kampus saya saat menempuh S1 dulu, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Jember. Hampir saya tak lagi mengenali kampus saya. Ini dikarenakan banyak sekali perubahan yang terjadi di sana sini. Terlihat gedung-gedung dan menara menjulang tinggi. Gumuk disulap menjadi taman dengan bangunan berasitektur Eropa.

Baru saja saya menginjakkan kaki di depan gedung Rektorat. Di sana saya disambut oleh Rektor dan jajarannya. Mungkin mereka merasa bangga alumninya menjadi Kemenag RI, sehingga penyambutan kedatangan saya terasa begitu mengesankan. Penyambutannya melebihi penyambutan artis Ibu Kota. Hal ini membuat saya senang, tapi juga berfikir apa tidak berlebihan.

Kini, UIN Jember terkenal di dunia karena memiliki potensi yang baik, memanfaatkan ide-ide sesuai lingkungan kampus. Inilah prestasi yang sangat membanggakan, terutama bagi saya sebagai alumni UIN Jember. Di samping itu, tepatnya pada tahun 2025, di kampus ini juga muncul jurusan baru, yaitu Jurusan Peternakan Ayam dan menjadi jurusan unggulan.

Saya menyempatkan diri bertanya kepada Rektor UIN Jember tentang ide dimasukkannya Jurusan Peternakan Ayam ini. Menurutnya, ide tersebut bermula karena masih terpasang lampu bohlam di area kampus. Di samping itu, ketika siang hari banyak ayam berkeliaran. Apalagi suhu udara di kampus yang cukup bagus dirasa cocok untuk beternak ayam.

Jurusan ini sangat didukung dengan vasilitas dan lingkungan kampus yang memadai. Maklum saja kampus ini mempunyai lampu yang sangat dibutuhkan untuk penetasan telur. Untuk praktik penetasan telur, jurusan ini masih melestarikan cara tradisional, yaitu dengan menggunakan lampu bohlam.

Setelah lama berkeliling areal kampus, saya duduk di depan gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sambil menikmati keindahan gumuk. Angin sepoi lumayan cukup menyeka keringat saya. Di sana juga ada perkumpulan mahasiswa. Mereka terlihat mengobrol, mungkin sedang berdiskusi. Salah satu dari mereka nyeletuk: “Ayam yang berkeliaran di kampus kok makin banyak, ya? Apa tidak dipelihara praktik saja? Bagaimana kalau kita melihara juga?” Seketika suasana menjadi riuh dengan tawa mereka.

Karena Jurusan Peternakan Ayam ini terdengar sangat menarik, tentu saya tak melewatkan dengan sia-sia. Saya sempatkan pula melihat proses praktik penetasan telur ayam. Ternyata benar, peralatan praktik menggunakan peralatan tradisional dengan, salah satunya memanfaatkan lampu bohlam. Dan masih menurut Rektor UIN Jember, berkat melestarikan penetasan telur secara tradisional, UIN Jember menuai banyak pujian, karena di tahun 2036 ini metode tersebut dianggap langka.

Sebagai alumni, saya bangga. Apalagi ketika mendengar bahwa kampus saya kini tiap hari sibuk melayani kunjungan dari pengusaha peternakan, juga kunjungan dari kampus lain yang tertarik melihat lampu bohlam masih digunakan hingga masa sekarang. Padahal, lampu bohlam ini sudah benar-benar langka.

Di samping itu, masih menurut Rektor UIN Jember, dari tahun ke tahun Jurusan Peternakan Ayam ini, semakin difavoritkan sehingga seleksi masuk jurusan ini semakin diperketat. Selain itu, jurusan ini juga semakin berkualitas. Hal ini dilihat dari tingginya kriteria penerimaan mahasiswa, yaitu harus memelihara minimal 40 ekor ayam di rumahnya.

Saat kampus hanya menyiapkan kuota 5 ribu mahasiswa untuk Jurusan Peternakan Ayam, tapi yang mendaftar tes mencapai 100 ribu peserta. Bisa dibayangkan begitu rumitnya proses seleksi yang diterapkan seiring semakin membeludaknya peminat jurusan ini. Hanya karena lampu bohlam, kampus menjadi berbenah dari segala bidang yang ada sehingga kampus ini benar-benar berkualitas tidak hanya berformalitas. Ini sangat memuaskan kunjungan saya sebagai alumni dan Kemenag RI.

Sejenak saya mengingat masa-masa kuliah saat UIN Jember masih berstatus STAIN Jember, tepatnya tahun 2013. Ketika saya lewat belakang gedung akademik, suasananya begitu menakutkan. Hanya ada cahaya lampu bohlam. Membayangkan suasana itu, saya seperti berjalan sendiri di pekuburan. Meski demikian, ternyata masih banyak mahasiswa dan mahasiswi duduk berduaan sambil menundukkan kepala, memusatkan pandangannya pada layar laptop/notebook.

Ah, saya jadi tertawa sendirian mengingat masa-masa itu.[]