KPK Pensiun

Akhir bulan ini, 29 Desember 2030, saya akan dilantik sebagai Wakil Ketua Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat. Hal ini sangat saya tunggu-tunggu mengingat menjadi bagian dari KPK merupakan panggilan hati semenjak menempuh mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi (PAK) di Universitas Islam Negeri (UIN) Jember. Karena bagi saya tidak cukup mencegah sikap korupsi dari diri sendiri, akan tetapi penting juga bergerak dalam membela masyarakat.

Setelah pelantikan selesai, telah disepakati bahwa koruptor di berikan hukuman mati dan semua hasil dari korupsinya di kembalikan ke Negara. Kabar bahagia khususnya untuk saya, menjadi harapan seluruh masyarakat Indonesia, hukuman yang efektif dalam memberantas korupsi hingga tuntas. Harapan ini bukan isapan jempol belaka. Sejak diterapkan dan dilaksanakan angka korupsi mulai berkurang. Pejabat pemerintah banyak yang berbenah dalam kinerjanya yang mengindikasikan Tindak Pidana Korupsi.

Belum genap satu tahun saya menjabat di KPK sudah tidak ditemukan kasus korupsi dalam pemerintahan. Cukup meringankan pekerjaan pejabat di KPK. Saya sering duduk santai di dalam kantor karena tidak ada pengaduan apalagi melakukan penyelidikan. File yang biasanya menggunung di atas meja kerja saya sekarang hanya tersisa beberapa lembar kertas kosong saja. Dari pada tidak ada kerjaan saya iseng mengambil pulpen kemudian menuliskan sesuatu, tapi baru saja menulis seperti ada langkah kaki yang mengarah keruangan kerjaan saya. Ternyata itu pak hasan, dia begitu ingin tahu dengan apa yang sedang saya tulis, tetapi tulisan itu segera saya sembunyikan. Karena dia tidak bisa melihat apa yang saya tulis lalu dia berpamitan pulang.

Begitu percakapan kami selesai, saya juga bersiap-siap untuk pulang, karena ini sudah hampir jam pulang. Beberapa hari kemudian, Rumah aspirasi rakyat di dominasi oleh permintaan rakyat untuk KPK di pensiunkan saja, mengingat usia KPK sudah tua dan kasus korupsi sudah tidak ada, bahkan Indonesia di nobatkan sebagai negara bebas korupsi pertama di dunia. Ini sedikit mengejutkan kami karena aspirasi ini di kabulkan oleh Negara, mau tidak mau kita diberhentikan dan harus mencari pekerjaan lain.

Sebelum barang saya di kantor dikeluarkan semua, saya masih ingat beberapa kasus dulu di tahun 2015 ke bawah yang cukup membawa nama KPK mendominasi topik di media misalnya saja, 15-25 Desember 2013 ketika Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah ditetapkan dan ditahan sebagai tersangka korupsi, 9-19 januari 2014 ketika mantan ketua umum partai Demokrat Anas Urbaningrum di tetapkan sebagai tersangka kasus gratifikasi hambalang dan akhirnya ditahan KPK, 28 februari hingga 5 maret 2014 ketika ketua MK Akil Mochtar tertangkap tangan oleh KPK dalam Kasus suap sengketa pilkada di Mahkamah Konstitusi, Luthfi Hasan Ishaaq kasus suap pengurusan kuota daging impor, kasus Nazaruddin, Ahmad Fatonah, Suryadarma Ali dan lain-lain. Di tahun 2015 paling mengejutkan publik yaitu di tetapkannya Dahlan Iskan sebagai tersangka korupsi gardu listrik.

Jika ingat korupsi yang dilakukan oleh ahmad fathanah hal ini tidak hanya berkaitan dengan uang milik negara akan tetapi juga berkaitan dengan wanita. Dimana wanita dijadikan sebagai money laundrey, hal ini sangat disayangkan karena wanita adalah orang yang melahirkan generasi bangsa selanjutnya, ketika wanita rentan dengan hal yang berbau korupsi lalu bagaimana dengan pendidikan yang akan diberikan kepada penerus bangsa ini. Kasus yang dilakukan oleh Ahmad Jauhari dan Suryadarma Ali yaitu kasus pengadaan Al Quran dan Dana Haji dalam Kementerian Agama, kasus ini memberikan contoh yang cukup buruk, bagaimana mungkin Al Quran yang menjadi Kitab Suci Agamanya sendiri di korupsi dan Dana Haji yang digunakan ibadah bagi orang Islam di jadikan sasaran korupsi oleh orang-orang islam sendiri.

Korupsi bisa terjadi dalam pemerintahan apapun dan melihat hukuman bagi koruptor lebih ringan daripada pencuri ayam, fasilitas tetap berkelas bagi koruptor yang menjadi tahanan semakin membuat korupsi di Indonesia menjadi subur. Hari ini masyarakat semakin bingung harus percaya pada wakil rakyat yang mana dan harus siap besok siapa lagi yang masuk berita. Ironisnya para koruptor merasa semakin tersohor dan tetap tersenyum tanpa merasa bersalah saat di sorot kamera. Saya pikir-pikir korupsi itu semacam kutukan, ketika pemerintah jadi koruptor maka generasi bangsa ikut menanggungnya di masa depan, bahkan berkembang istilah pemuda diwarisi hutang negara. Ternyata cukup lama saya mengingat kasus yang pernah terjadi, tidak terasa semua barang siap dibawa pulang dan saya segera pulang.[]