Kontroversi Tulisan Opini Dosen UIN KHAS Jember

Foto: Dr. Miftahul Ulum/Tangkapan layar/dari website Radar Jember


Beberapa hari ini salah satu tulisan opini yang berjudul “Cabul, antara Amoral dan “Hitam Putih” Kehidupan” tuai beragam kontroversi di kalangan mahasiswa Jember. Tulisan opini yang terbit pada Sabtu (17/4) di media Jawa Pos Radar Jember ditulis oleh Miftahul Ulum salah satu dosen di Universitas Islam Negeri KH. Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Opini tersebut berisi tentang tanggapan penulis terkait adanya kasus pelecehan seksual di sebuah perguruan tinggi di Indonesia. Dengan mengambil dua kasus yakni profesor dan model serta skandal paman dan keponakan.


Tulisan tersebut dianggap oleh kalangan aktivis perempuan sebagai opini yang subjektif serta tidak mengkaji dengan referensi hukum yang tepat. “Tulisan tersebut banyak dibumbui persepsi sederhana dan bahasa yang melebih-lebihkan serta tidak mengkaji referensi hukum dan catatan tahunan Komisi Nasional (KomNas) Perempuan,” ungkap Saras Dumasari, selaku Ketua Women’s March Jember.


Dalam tulisan tersebut terdapat beberapa diksi seperti “Pijatan cinta”, “Gara-gara meraba” yang menuai kontoversi karena dianggap hal yang lumrah dilakukan. ”Banyaknya diksi bias gender dengan kata-kata pemberian tanda petik yang hanya bisa diartikan oleh penulis sendiri,” tambah Saras.


Miftahul Ulum, selaku penulis opini tersebut menegaskan bahwa tulisan opininya di Radar Jember tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Ia menegaskan bahwa tidak ada pembelaan bagi pelaku pelecehan seksual. “Tidak (pro pelaku) hukum pidana kita sangat tegas dalam melindungi anak-anak dari kekerasan seksual,” ungkap Miftahul Ulum. Ia juga tidak menduga jika tulisan opininya akan menambah permasalahan baru. “Latar belakang opini ini adalah untuk memberikan edukasi hukum pencerahan kepada masyarakat, bahwa pelecehan seksual adalah pelanggaran hukum,” tambah Ulum.


Trisna Dwi selaku mahasiswa yang tergabung dalam Koalisi Aksi Tolak Kekerasan Seksual, mengungkapkan bahwa tidak ada keserasian antara judul dan isi dari opini tersebut serta terkesan membenarkan kekerasan seksual. Untuk menanggapi kontroversi tulisan opini oleh Miftahul Ulum, ia menulis opini pembanding yang berjudul “Memahami Kasus Kekerasan Seksual Secara Utuh, Setara, dan Humanis” edisi Selasa (20/4) di Jawa Pos Radar Jember. “Karena tulisan opini Pak Ulum sudah tersebar di ranah publik dan menuai kritik dan kecaman, maka Pak Ulum harus meminta maaf kepada publik,” tambah Trisna.


Menyadari tulisan opininya mendapatkan respon yang negatif oleh publik, Miftahul Ulum meminta maaf dan mengklarifikasi bahwa ia sebenarnya kecewa dengan tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen. “Saya memohon maaf jika opini saya telah dianggap berlebihan, saya klarifikasi bahwa tujuan saya adalah menengahi kedua belah pihak yang berselisih dan saya tidak ada kepentingan kepada saudara RH dan korban yang sudah saya anggap adik sendri, “ ungkap Miftahul Ulum.

Reporter: Riko, Aab

Editor : Mala