Komsi Gelar Teaterikal “Di Ujung Tali”

Komunitas Seni (Komsi) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, Selasa (12/9) pukul 14.30 WIB, menggelar teaterikal berjudul Di Ujung Tali. Berlangsung di halaman gedung akademik IAIN Jember, teaterikal ini mengkritisi sistem pemerintahan.

“Alasan saya cuma satu, semuanya ini karena sistem. Kita diperbudak oleh sistem dan kita terikat oleh sistem,” ujar Fauzan Adiriyanto (Buceng) sutradara teater, ketika ditanya latar belakang digelarnya teaterikal.

Dengan wajah dicat putih, tujuh aktor teaterikal duduk berbaris ke belakang dengan tali yang mengikat pinggang mereka. Tujuh aktor tersebut menggambarkan beberapa orang yang memiliki perbedaan status sosial.

Aktor di barisan paling depan menggambarkan status sosial yang paling tinggi, sedangkan aktor paling belakang yang paling rendah, atau dalam masyarakat diartikan sebagai masyarakat miskin.

Satu aktor lain berkostum warna putih, menarik tali yang mengikat tujuh aktor. Buceng mengatakan, aktor tersebut berperan sebagai sistem yang mengikat. Dengan sistem tersebut status orang bisa berubah.

Ia menambahkan, sistem yang mengikat menjadikan masyarakat miskin (status sosial rendah) mengemban beban begitu banyak dibandingkan status yang paling tinggi. “Biasanya status sosial yang lebih tinggi yang mengemban beban lebih banyak,” ujarnya.

Dengan digelarnya teaterikal Di Ujung Tali, Buceng berharap agar masyarakat sadar bahwa mereka telah diikat oleh sistem-sistem. “Masyarakat sekarang sudah beralih pada dunia hedonisme,” kata Buceng.

Salah satu penonton, Ahmad Nafi’ Bil Haqqi Nazal, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), mengatakan bahwa teater tersebut dinilai bagus, dan baru ada saat ini di kampus IAIN Jember. “Teater itu bagus, karena sebelumnya belum ada,” ujarnya.

Penonton lain, Diana Azizatul Hima, mahasiswa Program Studi PAI  menjelaskan bahwa teaterikal yang ditampilkan, menunjukkan seperti ada sesuatu yang salah di kampus. “Mereka (Komsi) mengungkapkan ketidakpuasaanya dengan seni,” ujarnya.[]