Kaya Tambang

Pulau Jawa memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Salah satunya di Jawa Timur, provinsi kelahiran saya. Tahun 2036 saya memiliki jabatan di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur sebagi Kepala Staf Bidang Pertambangan Umum dan Energi. Dari data yang dimiliki ternyata Jawa Timur tidak hanya padat penduduknya, tetapi juga berpontensi memiliki mineral berlimpah yang tidak kalah dengan Papua, Sulawesi, dan Kalimantan.

Dari awal menjabat, saya mulai mengunjungi daerah-daerah yang memiliki mineral, misalnya di Banyuwangi yang memiliki potensi emas, perak dan tembaga, Lumajang dengan tambang pasir besinya, dan Gersik dengan bahan mentah batu gamping yang diolah menjadi semen. Banyak lagi kota-kota di Jawa Timur yang kaya akan mineral seperti Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, dan Jember.

Sektor pertambangan di Jawa Timur bisa dibilang cukup berhasil. Tak heran, jika Jawa Timur di jadikan contoh provinsi-provinsi lain yang ada di Indonesia. Karena Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur terus gencar-gencarnya mensosialisikan konsep pertambangan dengan memperhatikan pengelolaan, teknik, pendekatan lingkungan dan sosial kemasyarakatan dengan terus menggandeng perusahaan negara. Hasil pengelolaan barang tambang juga dirasakan oleh masyarakat.

Indonesia sudah mampu mengelola hasil tambang sendiri tanpa bekerja sama dengan pihak asing. Pengolahannya mempunyai standar yang baik. Izin tambang semakin di perketat, diimbangi pula pengawasan berkala. Keberadaan perusahaan tambang di daerah juga memberi lapangan pekerjaan bagi penduduk sekitarnya dengan upah yang sesuai. Pemanfaatan tambang benar-benar dipergunakan dengan baik, antara penduduk dan perusahaan sama-sama memiliki tanggung jawab.

Perusahaan tambang milik negara yang ada di Jawa Timur mulai bekerja sama dengan luar negeri dalam pendistribusiannya. Perusahaan semen di Gresik, Jawa Timur, mendirikan perusahaan di beberapa negara, seperti Australia, Cina, Amerika, dan Myanmar. Keberhasilan serupa juga diikuti oleh perusahaan tambang lainnya yang ada di Indonesia.

Kerjasama pemerintah dan masyarakat sangat membantu dalam pengelolaan tambang yang ada di Indonesia khususnya Jawa Timur. Program melestarikan tambang juga menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Sehingga pertambangan dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini juga didukung oleh terlaksananya hukum pertambangan dengan kerjasama masyarakat dan pihak penegak hukum.

Keberhasilan bersama dalam pengelolaan tambang ini mengingatkan beberapa kasus di tahun 2015 yang sangat kontras dengan keberhasilan sekarang. Misalnya, ditetapkannya Sukadi yakni Kades Magetan jadi tersangka tambang pasir ilegal, pengusaha galian C melakukan aksi demo Pemkab Ngawi, menuntut pencabutan surat penertiban pertambangan tanpa izin (PETI), dan terbunuhnya Salim Kancil, aktivis anti tambang pasir di Lumajang.

Kisruh pertambangan di Jawa Timur terus terjadi setelah warga makin gencar melakukan aksi protes di beberapa wilayah yang dinilai cukup merugikan. Belum usai kasus di Lumajang disusul dengan penolakan tambang emas Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi yang di sertai dengan penembakan oleh aparat. Kasus-kasus yang terjadi di Jawa Timur ini menambah daftar hitam kasus dunia pertambangan di Indonesia pada saat itu.

Indonesia begitu kaya alamnya. Sayangnya, kekayaan ini diimbangi dengan jamaknya orang-orang tamak. Kasus-kasus sebagaimana disebutkan di atas merupakan bukti nyata. Keberadaan penambangan menjadi pemicu konflik antar masyarakat sekitar area pertambangan. Padahal seharusnya masyarakat di sekitar pertambangan diuntungkan dengan adanya penambangan, bukan justru sebaliknya.[]