Jerat Jam Malam

Birokrasi Universitas Islam Negeri (UIN) Jember tidak pernah berubah, selalu saja getol menerapkan jam malam. Tapi, ya itu, sekadar wacana saja, kasak-kusuk di sana-sini, ujung-ujungnya hilang begitu saja. Tidak ada sosialisasi kepada mahasiswa – kecuali disampaikan pada rapat antar organisasi kemahasiswaan, itu pun di luar pembahasan – menunjukkan bahwa pihak birokrasi kampus tidak memiliki ketegasan dalam menerapkan jam malam.

Apa hal demikian telah menjadi tradisi birokrasi UIN Jember? Saya sudah lupa berapa kali Rektor UIN Jember menyampaikan perihal penerapan jam malam. Yang selalu saya catat, Rektor UIN Jember tidak pernah absen menyampaikannya dalam setiap kesempatan.

Pada pertemuan alumni, misalnya, 5 Agustus 2034 silam, Rektor UIN Jember menyinggung panjang lebar tentang rencana penerapan jam malam. Demikian pula pada pertemuan orangtua mahasiswa, 5 Agustus 2035 yang lalu. Terakhir pada acara UIN Jember Bersholawat satu bulan yang lalu, 14 Februari 2036.

Sebagai alumni sekaligus Ketua Umum Keluarga Besar Alumni UIN Jember, saya mengapresiasi kebijakan tersebut. Karena, alasan kuat yang dilontarkan Pak Rektor waktu itu, yaitu bertujuan untuk mengurangi aktifitas mahasiswa di malam hari. Di samping itu, dia beralasan agar aktifitas mahasiswa yang tinggal di asrama tidak terganggu oleh aktifitas mahasiswa yang tidak tinggal di asrama, khususnya masyarakat luar. Selain itu, dia mengatakan, dalam setiap kali blusukan di sekitar kampus pada malam hari, dia kerap kali memergoki sepasang mahasiswa dan mahasiswi tengah duduk berduaan.

Melihat kenyataan yang disampaikan Pak Rektor itu, tentu saya sangat prihatin. Maka tak ada alasan lain bagi saya tidak mengapresiasi – bahkan tidak menerima kebijakan penerapan jam malam, meski ketika masih menjadi mahasiswa dulu saya turut aktif menolak kebijakan tersebut. Asalkan, alasannya kuat, diterima oleh mahasiswa, dan tidak sekadar menjadi wacana belaka.

Perihal penerapan jam malam semacam ini, sebenarnya sudah lama digembar-gemborkan. Ketika UIN Jember masih berstatus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember, tepatnya sekitar tahun 1995-an, pernah diterapkan jam malam. Semua lampu yang tersebar di setiap sudut kampus dimatikan, termasuk lampu yang ada di pos keamanan. Menurut cerita kakak angkatan, Kampus Hijau – julukan UIN Jember – yang dulu letak geografisnya dikelilingi sawah tampak gelap gulita.

Menyikapi kebijakan itu, masih menurut kakak angkatan, mahasiswa tidak tinggal diam. Mereka menghimpun gerakan menolak diterapkannya jam malam tersebut. Bagi mereka, dan tentu sepaham dengan kakak angkatan, jam malam adalah sebuah malapetaka, bahkan penjara. “Kebebasan kita dirampas. Hak keilmuan kita dibatasi. Kita dipaksa tunduk di bawah ‘ketiak’ penguasa!” katanya menggebu-gebu. Gerakan ini pun berhasil menghapus penerapan jam malam di kampus.

Pada medio tahun 2013, seiring diterapkannya jam malam di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, termasuk perguruan tinggi di Jember, birokrasi STAIN Jember kembali mewacanakan penerapan jam malam. Pihak kampus STAIN Jember mengeluarkan Surat Keputusan (SK). Mahasiswa pun, terutama dari organisasi kemahasiswaan, tidak tinggal diam. Mereka menghimpun gerakan menolak jam malam. Tak ada “angin” dan “hujan”, keesokan harinya ketika mereka hendak “turun ke jalan”, pimpinan kampus menyatakan mencabut kebijakannya.

Selang beberapa tahun kemudian, tepat pertengahan bulan April 2016, ketika STAIN Jember telah diresmikan menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember lima bulan lalu, penerapan jam malam kembali diwacanankan. Wacana tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaaan dan Kerjasama, Sukarno, dalam rapat Sosialisasi Beasiswa DIPA, pada 15 April 2016 di Ruang Madya IAIN Jember.

Salah satu kawan saya yang menghadiri rapat tersebut mengatakan, rencana jam malam diterapkan di kampus untuk mengurangi pengaruh pergaulan bebas. Kasus aborsi yang dilakukan oleh mahasiswa IAIN Jember waktu itu menjadi alasan kuat diterapkannya jam malam. Bahkan dinilainya sebagai bagian dari pengaruh pergaulan bebas. Maka tak ada cara lain – barangkali – agar kejadian serupa tidak terulang selain dengan menerapkan jam malam.

Namun, kebijakan itu ujung-ujungnya menjadi wacana belaka. Karena tak ada kesiapan, keseriusan, dan ketegasan dari pihak kampus, kebijakan yang hanya berupa wacana itu hilang begitu saja. Mahasiswa yang masih memiliki perhatian pada kampusnya, waktu itu, telah menghimpun gerakan dan bersiap menyikapi wacana jam malam apabila benar-benar diterapkan. Apabila sikap semacam ini masih dilestarikan oleh birokrasi UIN Jember, sampai tahun 2036 ini pun dapat dipastikan UIN Jember tidak akan mengalami kemajuan. Kini saatnyalah UIN Jember harus berbenah.[]