Jadul tapi Tak Amburadul

Pesta demokrasi menjadi tujuan negeri ini, Indonesia. Berbagai kalangan masyarakat menyerukan demokrasi sejati. Tanpa ada lagi pembatas antara seorang pemimpin bangsa dengan seorang tukang becak, juga antara rektor sebuah perguruan tinggi dengan mahasiswa. Mereka menuntut kesetaraan status sebagai bangsa Indonesia yang utuh. Kebebasan berekspresi, misalnya, adalah tuntutan dari semua kalangan masyarakat kepada para pemimpinnya. Pada intinya, menghilangkan sistem hirarki yang menjamur pada masa Orde Baru (Orba).

Ketika Universitas Islam Negeri (UIN) Jember masih berstatus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember, kebebasan berekspresi, pengembangan keilmuwan, atau kegiatan berorganisasi, mendapat tempat yang mapan dari Pimpinan. Tak ada batasan untuk mahasiswa selama tidak bertentangan dengan peraturan kampus. Demokrasi sangat kental, bahkan mencapai puncak tertinggi saat tak ada beda antara politik dengan proses pengembangan diri mahasiswa.

Kegiatan pemilihan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) atau lebih dikenal dengan Badan Eksekutif Mahasiswa, proses penerimaan mahasiswa baru, atau sekadar pengumuman ketua terpilh dari suatu lembaga disosialisasikan kepada seluruh kalangan kampus. Spanduk, bannerbanner berukuran besar, terpampang di depan kampus di samping pintu masuk dan keluar kampus.

Para produsen alat-alat peraga itu percaya, bahwa mata adalah alat vital bagi para konsumen–mahasiswa kupu-kupu, pragmatis dan hedonis. Kepercayaan ini membawa mereka dengan tanpa rasa malu untuk membawa jargon, alat politik: bendera ideologi, diskursus, pemanfaatan kekuasaan, bahkan latar sebuah ideologi, mereka jajakan.

Lain halnya pada tahun 2036, masa anak saya sekolah di Universitas Islam Negeri (UIN) Jember. Tak ada kerusakan visual di samping gerbang masuk atau keluar kampus. Bahkan, di dalam kampus pun juga tidak ada. Hendak masuk kampus, para mahasiswa atau orang tua yang hendak mendaftarkan anaknya untuk kuliah, disuguhi dengan pemandangan taman hijau. Tanpa ada banner, spanduk, bendera suatu lembaga, seperti pada waktu saya kuliah dulu.

Mahasiswa baru yang sudah mendaftarkan diri dan registrasi di UIN Jember, akan menpapat earphone anti sinar X yang mengganggu kerja saraf otak. Hal ini bertujuan untuk menyampaikan informasi kampus. Di samping itu, setiap sore para mahasiswa mendapat ceramah semacam kultum (kuliah tujuh menit) dari dosen terpilih, yang ahli dalam bidang agama. Program ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa akan moral, dan membentengi diri dari politik-politik ‘tahi kucing’ yang dapat merusak akal sehat mahasiswa.

Lirih-lirih saya mendengar ceramah Rektor UIN Jember yang ada di earphone anak saya. Dalam ceramahnya, dia menjelaskan landasan terbentuknya program ini. Dia termotivasi oleh perilaku orang-orang tua pada masa nenek moyangnya–sekitar tahun 1945. Mereka memperkenalkan beberapa hikayat dari suatu tokoh, atau sekadar rembug rukun tetangga yang mengandalkan ‘telinga’ sebagai media penyerapannya. Dan hasilnya cukup menjanjikan, tanpa ada reduksi moral dari satu turunan ke keturunan selanjutnya.

Tak ada salahnya program ini digencarkan. Ketika mata sudah tercemar akan ‘iming-iming’ pandangan kehebatan: politik, kekuasaan, kebenaran yang terbungkus oleh kedustaan; perlu adanya jalan pengganti mata yang rentan tertipu oleh keindahan visual.

Rasa iri terhadap kenikmatan yang didapat anak, saya anggap wajar. Karena pada waktu saya kuliah di tahun 2013, tak ada kenikmatan yang saya dapat. Korban dari politik sudah pasti. Hanya ada dua pilihan pada waktu saya kuliah. Pertama, ikut merayakan politik dengan anggapan pesta demokrasi. Kedua, menjadi korban politik dengan jalan terintimidasi sosial sampai menjadi orang yang paling hina di kampus–dengan begitu kentalnya ­diskursus politik.

Telinga yang tertutup oleh kebenaran pada tahun-tahun saya menjadi mahasiswa di STAIN Jember, kini terbuka lebar akan kebenaran yang terbungkus kebenaran. Bukan kedustaan yang terbungkus oleh kebenaran. Saya bersyukur atas berubahnya status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember menjadi UIN Jember. Terlebih akan pedulinya pihak kampus terhadap mahasiswanya yang terancam kerusakan moral. Berbagai sampah visual terutama yang berbau politik tak terpasang. Kini, model audio digunakan lagi. ‘Meski terkesan jadul, moral lebih utama’, menjadi prinsip Rektor UIN Jember tahun 2036.[]