Ironi Kampus Islam dalam Kegiatan Orientasi Mahasiswa

Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember merupakan salah satu bentuk penyambutan perguruan tinggi kepada mahasiswa baru. Kita bersyukur wabah virus corona telah berlalu, Presiden Joko Widodo juga telah memperbolehkan tak lagi menggunakan masker di tempat terbuka. Sehingga UIN KHAS Jember menyelenggarakan kegiatan orientasi mahasiswa dan seluruh kegiatan kampus lainnya dengan sistem luar jaringan (luring).

Ditengah-tengah kebahagiaan PBAK yang diselenggarakan secara luring setelah puasa pertemuan selama dua tahun lamanya, terjadi hal memalukan. Mahasiswa baru berjoget dangdut ‘ojo dibanding- bandingke’ di dalam Masjid, dalam video tersebut mempertontonkan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dan panitia penyelenggara berjoget tak aturan dengan tangan diatas kepala. Video tersebut telah tersebar dan dimuat di banyak platfrom akun sosial media, mulai dari akun keagamaan hingga akun gosip. Tentu, berita tersebut menuai banyak hujatan.

Mahasiswa UIN KHAS Jember dinilai tak mencerminkan nilai nilai moral agama Islam, tak hormat pada tempat ibadah juga tak menjaga nama baik almamater yang baru diembankan kepada mereka. Lantas siapa yang harus bertanggunga jawab atas kejadian tersebut?

Panitia sebagai mahasiswa senior dinilai tak tegas dalam menyelenggarakan kegiatan orientasi tersebut. Membiarkan mahasiswa dan malah ikut serta berjoget di dalam masjid. Suka musik koplo atau dangdut boleh, asal kenal tempat. Jika ingin konser silakan di lapangan kampus.

Menurut Presiden Mahasiswa (presma) UIN KHAS Jember, Nurul Hidayat, dalam penuturannya pada wawancara yang dilakukan oleh tim UPM Millenium pada Jumat (26/8), aksi joget dangdut tersebut tidak masuk pada rundown pelaksanaan PBAK. Murni lepas kontrol dari panitia. Pihak kampus UIN KHAS Jember pun memberikan tanggapan melalui tulisan klarifikasi pada platform akun instagram official.

Selain itu juga berdasarkan penuturan ketua panitia penyelenggara PBAK, Saihan, dalam wawancara tim UPM Millenium kepada pada Jumat (26/8) mereka mengaku bahwa, tempat tersebut disebut masih direncanakan sebagai masjid, belum difungsikan sebagai masjid. Hal itu dikarenakan pembangunannya masih dalam tahap 60%. Bisa saja nantinya bangunan tersebut tidak jadi menjadi masjid, melainkan lab keagamaan atau islamic center, menimbang juga telah dibangun miniatur Ka’bah di sampingnya.

Panitia juga mengaku video tersebut hanya sepotong dari seluruh kegiatan pada hari itu. Sebagai mahasiswa Universitas Islam Negeri, tentu diharapkan tau mendalam mengenai syariat-syariat agama. Pandangan masyarakat menilai bahwa UIN menjadi wadah bagi mahasiswa agar menimba ilmu yang seimbang antara umum dan keagamaan. Maka dengan terjadinya hal tersebut sangatlah disayangkan dan memalukan. Mencoret citra nama UIN sebagai kampus religius.

Panitia PBAK seharusnya terus mengontrol kegiatan yang berlangsung di tempat, mempersiapkan rundown yang matang dan selalu melakukan evaluasi kelayakan tempat agar mengantisipasi kejadian di luar kontrol. Pengisian waktu kosong atau ice breaking yang diberikan juga seharusnya disusun dengan matang agar tak menyimpang dari keagamaan. Tentunya juga memantaskan prilaku di waktu dan tempat yang tepat sebagai antisipasi kejadian yang tak diinginkan.

Sebagai mahasiswa kampus islam jelas tak etis berjoget di ruangan yang diduga menjadi masjid. Walaupun jika nantinya tempat tersebut tidak jadi di gunakan menjadi masjid, toh pasti tidak akan jauh dari bangunan bernuansa keagamaan kan? Lab keagamaan atau islamic center, apakah juga etis jika digunakan sebagai tempat joget-joget? Meskipun bangunan tersebut nantinya menjadi lab keagamaan tentu harapan kita kedepannya jangan sampai di gunakan karaoke lagu dangdut lagi, apalagi yang di nyanyikan ‘joko tingkir ngombe dawet’ duh, bakal lebih kejam lagi hujatan netizen.

Reporter : Ulya dan Rifa

Penulis : Ulya