Festival Anggaran Kampus

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 1 juni 2036, Rektor  Universitas Islam Negeri (UIN) Jember mendapat penghargaan Anti Coruption Award (ACA), sebuah penghargaan di bidang anti-korupsi yang rutin diberikan tiga tahun sekali sejak tahun 2020. Sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada pribadi-pribadi yang terus berusaha menumbuhkembangkan tata kelola institusi yang baik, bersih dan bertanggung jawab serta menjadi inspirator bagi terbangunnya upaya pemberantasan korupsi di lingkungannya.

Hal yang menjadi pertimbangan tim juri dalam memutuskan Rektor UIN Jember  layak mendapat penghargaan tersebut adalah karena terobosannya dalam membuat festival anggaran. Sebuah ajang transparansi dana yang dilakukan seterbuka mungkin bagi seluruh civitas akademika yang ada di Kampus Hijau tersebut. Jangankan mahasiswa, para Office Boy, Security bahkan warga sekitar diperkenankan mengakses informasi terkait anggaran yang dikelola oleh kampus.

Tahapan penganggaran  yang dilakukan  oleh kampus ini (mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan hingga pemeliharaan) dipajang di banyak ruang publik seperti di Doubleway, Warung ‘Asli’, Kawanku Cafe dan di tempat lainnya. Masyarakat dapat mengakses secara bebas bahkan menyampaikan uneg-uneg dan protesnya jika ada penyelewengan dana tanpa takut intervensi ataupun tekanan dari organisasi mayoritas yang membayang-bayangi kampus selama bertahun-tahun.

Dalam autobiografinya, Rektor mengungkapkan jika ia melakukan langkah demikian, berdasarkan pengalamannya  semasa kampus ini masih berstatus STAIN Jember, yang kemudian beralih status menjadi IAIN Jember. Mengingat salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sempat mengadakan kegiatan bersama Bung Hatta Anti Coruption Award (BHACA) pada tahun 2014, ia kemudian mengenal tokoh-tokoh penerima penghargaan Bhaca tersebut. Ia terinspirasi dari Yoyok Sudibyo, Bupati Batang yang menerima penghargaan Bhaca pada tahun 2015 lalu.

Yoyok menerima penghargaan BHACA bersanding denga Walikota Surabaya, Tri Rismaharini atau yang lebih akrab dikenal dengan Bu Risma. Yoyok merupakan bupati yang kurang familiar di kalangan masyarakat luas berbeda dengan Risma yang kiprah dan gayanya dalam memimpin Kota Surabaya sangat ‘memukau’. Hal ini karena Surabaya merupakan kota besar sehingga ekspos media banyak tersorot kepadanya, berbeda dengan Kabupaten Batang yang kurang dikenal secara luas. Yoyok merupakan inisiator transparansi anggaran pada Kabupaten Batang.

Sementara di kampus IAIN Jember pada 2015, jarang sekali ditemui anggaran kampus yang terbuka secara luas. Banyak mahasiswa yang tidak tahu-menahu terkait dana kampus, termasuk juga dana di organisasi kemahasiswaan. Banyak anggaran kegiatan kampus yang tidak tepat sasaran sehingga tidak banyak perubahan kualitas lulusan yang dihasilkan. Pihak kampus hanya menggenjot pembangunan berupa gedung dan bangunan fisik lainnya.

Akses terhadap transparansi anggaran pun tidak banyak diketahui mahasiswa, ada organisasi ekstra kampus yang melaksanakan kegiatan tingkat regional tertentu dengan mendapatkan anggaran dari kampus.  Padahal, statusnya bukan bagian dari organisasi kemahasiswaan di bawah naungan kampus. Di sisi lain ada pula kegiatan mahasiswa yang dilakukan oleh jurusan tertentu yang tidak terjembatani oleh himpunan mahasiswanya.

Lalu bagaimana anggaran ini berjalan tetap sasaran, baik penerima dan pemakaiannya. Hal semacam ini perlu dipertanyakan pula transparansi anggarannya. Belum lagi dengan kegiatan yang ‘terkesan’ sekedar diada-adakan penerima anggaran. Misalnya, organisasi di bidang ekonomi melakukan pelatihan kejurnalistikan. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Maka sebagai Rektor, telah dianggap berhasil mempelopori adanya transparansi anggaran dengan mem-publish-nya di ruang publik. Kegiatan produktif dilakukan dengan membuka ruang kreatifitas mahasiswa dan di tampilkan dalam festival anggaran. Masing-masing fakultas dan prodi berlomba-lomba melakukan inovasi dalam mengelola anggaran yang dimilikinya. Hingga akhirnya semua potensi kerugian akibat penyelewengan dana dapat diminimalisir sedini mungkin.[]