Di Balik Kontroversi PBAK 2022 UIN KHAS Jember

Cover by : UPM Millenium

Pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember pada Senin (22/8) sampai Kamis (25/8) berjalan tidak sesuai rencana. Hal ini disebabkan adanya aksi protes yang diduga masih dalam rangkaian demo mengenai Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dilakukan oleh mahasiswa. Aksi tersebut disisipkan dalam agenda opening ceremony yang dilaksanakan pada Senin (22/8) pagi, ketika Rektor UIN KHAS Jember, Babun Suharto, sedang memberikan amanat. Aksi yang dilakukan adalah membentangkan spanduk di pinggir lapangan mengarah kepada tribun undangan berisi kalimat-kalimat yang ditujukan kepada rektor.

Melihat spanduk-spanduk tersebut dibentangkan, rektor yang belum sempat menyampaikan separuh dari amanatnya malah menanggapi aksi protes tersebut. “Silakan bagi siapapun yang keberatan dengan (nominal) UKT untuk diambil kembali uangnya. Masih banyak mahasiswa yang ingin berkuliah di sini tanpa aksi seperti ini” ucap Babun Suharto. Setelah amanatnya hanya diisi dengan tanggapan atas kalimat-kalimat tersebut, Babun turun dari mimbar menuju ke arah spanduk berada untuk mencari provokator dalam aksi tersebut.

Suasana setelah rektor turun ke lapangan dan akan meninggalkan lokasi opening ceremony PBAK [Foto : Noer Fajriyatul/UPM Millenium]

Situasi opening ceremony menjadi tidak kondusif karena ketika rektor turun ke lapangan, ada beberapa diduga massa demo ikut turun ke lapangan. Panitia berusaha kembali mengontrol jalannya kegiatan dengan menghalangi massa untuk masuk ke lapangan dan menenangkan rektor untuk diajak kembali ke tribun undangan. Namun, rektor malah semakin marah sampai hendak mengajak duel Presiden Mahasiswa UIN KHAS Jember, Nurul Hidayat, yang ia duga sebagai dalang dari aksi pagi itu. Untungnya, panitia berhasil memulihkan keadaan meskipun rektor meninggalkan lokasi didampingi beberapa dosen. Rundown opening ceremony menjadi berubah total dan hanya dilanjutkan dengan prosesi pembukaan secara simbolik, deklarasi mahasiswa baru dan doa.

Adanya aksi ini diduga di luar kendali panitia, baik dari kepanitiaan dosen maupun mahasiswa. Pemasangan spanduk di pinggir lapangan pun tidak diketahui kapan dilakukan. “Panitia tidak ada yang tahu akan adanya aksi tersebut. Kita sudah melakukan sterilisasi lokasi sejak malam hari. Mungkin kecolongan ketika seluruh panitia berada di area depan kampus untuk persiapan kirab yang juga bagian dari rangkaian pembukaan PBAK” jelas Nurul Hidayat. Keterangan lanjutan juga disampaikan oleh Saihan, Ketua Panitia dari unsur dosen, ada kemungkinan pemasangan spanduk dilakukan ketika subuh. “Saya diberi informasi, pemasangan spanduk-spanduk itu dilakukan pas subuh. Malam harinya teman-teman panitia dari mahasiswa menyampaikan bahwa lokasi sudah aman dan steril, jadi mungkin kecolongan” ungkap Saihan.

Aksi yang dilakukan dalam opening ceremony PBAK tersebut berdampak pada jalannya rundown PBAK selanjutnya. “Materi pada hari pertama yang seharusnya disampaikan pada pukul 10.00, diundur menjadi pukul 13.00 agar situasi kembali kondusif terlebih dahulu” jelas Saihan. Pada selang waktu tersebut panitia melakukan koordinasi dengan pihak pimpinan rektorat mengenai kelanjutan jalannya PBAK. Hasil koordinasi tersebut disepakati dengan PBAK dicukupkan pada hari ketiga yaitu Rabu (24/8). “Dari pihak pimpinan sebenarnya malah ingin selesai pada hari kedua, Selasa (23/8) tetapi kemudian kami menjamin keamanan agar tidak ada lagi aksi seperti pada opening ceremony. Akhirnya diizinkan selesai di hari Rabu dan closing ceremony dilakukan pada sore dan malam hari” terang Nurul Hidayat.

Mahasiswa baru yang mengetahui pelaksanaan PBAK hari pertama tidak sesuai dengan jadwal yang mereka ketahui, mengungkapkan kekecewaannya. “Sedikit kecewa karena kejadian itu (aksi spanduk, Red.) berpengaruh ke jadwal PBAK di hari-hari berikutnya” ucap salah satu mahasiswa baru berinisial E. Jadwal pada hari pertama yang awalnya tidak ada istirahat setelah opening ceremony malah ada istirahat dan kembali dilanjut pada pukul 13.00 untuk materi.

Pelaksanaan PBAK berjalan lancar dari hari kedua dengan materi budaya akademik sampai hari ketiga pagi yang diisi sosialisasi Organisasi Mahasiswa (ORMAWA). Namun, pada hari ketiga sore, kembali amburadul ketika closing ceremony dilaksanakan. Agenda tersebut harus dibubarkan sebelum seluruh rangkaian acara selesai karena sudah menjelang waktu magrib, sementara seluruh peserta PBAK belum melaksanakan salat ashar.

Suasana closing ceremony PBAK [Foto : Nadhira/UPM Millenium]

Pembubaran tersebut mengakibatkan penampilan dari UKM/UKK yaitu Pramuka, Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA), Unit Beladiri Mahasiswa (UBM), Resimen Mahasiswa (MENWA) dan Komunitas Seni (KOMSI) dibatalkan. “UKM/UKK batal tampil. Menurut saya waktu sudah mepet sekali ketika presma (Presiden Mahasiswa, Red.) orasi, jadi ketika UKM/UKK mau tampil, sudah mepet magrib” jelas Rizal, Ketua Umum MAPALA. Seluruh UKM/UKK yang terlibat mengaku kecewa dengan dibatalkannya penampilan mereka. Kekecewaan mereka juga akibat dari jadwal yang diinformasikan sering berubah sehingga mengganggu persiapan mereka serta tanggapan panitia atas pembatalan tersebut. “Dari pihak panitia hanya bilang ‘maaf, Tum’ dan menjanjikan ganti rugi untuk kami. Tidak tahu kapan ganti rugi itu akan diberikan” ungkap Nailul, Ketua Umum UBM.

Secara konsep acara, pelaksanaan PBAK 2022 UIN KHAS Jember berjalan sesuai dengan rencana. Expo ORMAWA juga berjalan sesuai jadwal dan diberi waktu lebih di luar rangkaian PBAK 2022. Hanya saja situasi yang tidak kondusif di saat opening ceremony membawa dampak yang sangat signifikan kepada kelanjutan di hari-hari berikutnya. Sampai akhirnya closing ceremony harus dilakukan satu hari lebih cepat dan terjadi lagi ketidaksesuaian rundown yang sudah disusun.

Reporter : Rifa, Ulya dan Nadhira

Editor : Noer Fajriyatul