Bukan Lagi Dosen Superman

Pendidikan semakin dapat dinikmati oleh semua kalangan, apalagi pendidikan tidak hanya dijadikan sebagai sampingan dalam kesibukan lain diluar. Mahasiswa, dewasa ini mengikuti perkuliahan sesuai jadwal yang sudah di program. Angka mahasiswa yang bolos pun kian hari kian berkurang, karena mereka paham betul bahwa jadwal mereka adalah janji pada orang tua mereka, dan janjinya untuk Negara bagi mereka yang dibiayai pemerintah.

Pendidikan yang erat kaitannya dengan Islam kian diminati masyarakat, dimana kegelisahan para orang tua semakin besar atas pendidikan putra-putrinya. Terutama pengetahuan tentang agama, yang bisa mereka jadikan satu paket dengan pembelajaran formal. Di penghujung September 2025 saya bertolak mengunjungi kampus UIN Jember, tidak hanya sekedar kunjungan akan tetapi juga mengantar sepupu saya, Rosa dan Rosi untuk mendaftarkan diri di kampus saya dulu.

Seusai mendaftarkan Rosa dan Rosi kami berkeliling di area kampus, banyak sekali perubahan yang kami temui disini dari bangunan-bangunan kampus yang mencakar langit, hingga taman-taman yang terlihat semakin rapi dan elok dipandang. Juga terlihat komunitas-komunits mahasiswa yang duduk melingkar berdiskusi.

Kebetulan Rosa dan Rosi juga mengambil jurusan yang sama dengan saya yakni Manajemen Pendidikan Islam, dengan alasan ingin mengerti dan menerapkan manajemen yang baik di lembaga pendidikan yang dimiliki keluarganya. Nampaknya mereka sekarang mulai disibukkan dengan pembacaan realita di lembaganya, terbukti setiap mereka mendapatkan pengetahuan dari dosennya masing-masing mereka menerapkannya di lembaganya.

(sampai ini) Seperti yang saya pahami dosen adalah pendidik professional dan ilmuan dengan tugas utama menstransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat nampaknya sudah hampir seluruhnya dosen demikian bisa kita jumpai di UIN Jember. Terbukti dengan minat mahasiswa semakin tinggi terhadap pengetahuan pada jurusan masing-masing.

Minggu lalu saya mengunjungi mereka sekedar mengetahui kabar dan perkembangan studi mereka. Mereka begitu tersenyum melihat kedatangan saya sambil bersalaman seperti biasanya “ Mbak, tidak menyesal kuliah disini kemampuan dosennya tidak diragukan lagi, setiap dosen yang mengajar sudah sesuai dengan kompetensinya semua” ujar Rosi . Nampaknya mereka lupa untuk mempersilahkan saya duduk, sangking amat antusiasnya menceritakan studinya disini.

Rosa tiba-tiba tertawa “Mbak, maaf kami lupa. Silahkan duduk. Oya mbak ayo dong ceritakan bagaimana dulu sewaktu kuliah disini,”. Senang rasanya melihat perkembangan kampusku ini, dosennya sudah professional, tidak lagi satu dosen mengajar banyak mata kuliah yang sama sekali bukan bidang mereka bahkan mata kuliah yang sama sekali tidak mereka kuasai apalagi jika dosen seperti ini tidak dibekali dengan pelatihan terlebih dahulu untuk mengajar mata kuliah yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Sesekali saya sambil tersenyum mencertitakannya UIN masa lalu. saya teringat salah satu dosen yang sering kali menyuruh mahasiswa bertanya tapi saat akan menjawabnya selalu alasan untuk keluar sambil menengok ponselnya. Teringat saat dosen dalam satu semester membahas materi yang sama. Saat mengampu mata kuliah Manajemen sistem informasi pendidikan mahasiswanya justru asyik mengakses sistem informasi yaitu HP. Bahkan sampai ada dosen yang terang-terangan meminta maaf menjadikan PR pertanyaan mahasiswanya karena alasan sebenarnya ini bukan bidang mereka.

Miris sebenarnya melihat dosen mengajar banyak mata kuliah, sementara itu bukan bidang mereka. Setidaknya para dosen sudah mempersiapkan materinya sebaik mungkin. Dosen bukan “SUPERMAN” yang bisa dibutuhkan kapanpun atau mengajar apapapun yang bukan bidangnya. Dampaknya tidak kecil melainkan outputnya tidak mampu bersaing dengan baik.

Bagaimanapun kampus yang outputnya buruk lama-kelamaan akan ditinggalkan oleh masyarakat. Setidaknya dari segi pendidik didalamnya sudah professional dan selebihnya bagaimana mahasiswa dan mengaplikasikan ilmu yang sudah diperolehnya yang paling dasar pengetahuan yang sudah mereka dapatkan dibangku kuliah.

Rosi dan Rosa bersyukur di usia UIN Jember yang menginjak satu abad ini tidak ada lagi dosen yang mengajar bukan pada bidangnya. Metode mengajar yang dipakaipun lebih variatif. Di tengah persaingan dunia yang persaingan sisi negatif ilmu pengetahuan nampak ketara, UIN Jember berlaku sebaliknya. Hal ini searah dengan visi misi mereka menjadi pusat kajian dan perkembangan Islam Nusantara.[]