Belajar Pluralisme dari ‘Alien’

peekay
Foto: Millenium/Repro

Di dunia yang berisi lebih dari dua milyar manusia ini, kemajemukan seharusnya menjadi hal yang sangat lumrah. Dari kuantitas manusia yang sedemikan besar tentu setiap kepala memiliki persepsi yang berbeda terhadap suatu entitas. Termasuk dalam kehidupan keberagamaan seseorang. Semua memiliki wilayah masing-masing. Terlepas dari atribut yang menjadi identitasnya, keberagamaan merupakan hal yang sangat pribadi. Maka tenggang rasa dan saling menghormati harus menjadi landasannya.

Seperti yang diceritakan dalam salah satu Film Bollywood berikut. Film berjudul PK ini menyajikan suatu cerita yang segar namun sarat dengan muatan sosial, khususnya keberagamaan. Dengan latar belakang sebuah kisah cinta yang ringan dan manis, film ini membalut pesan keberagamannya dengan sangat apik. Sebuah pencarian yang tak kenal lelah, sebuah jawaban atas berbagai pertanyaan, dan sebuah cerita yang menggugah untuk mengenal lebih dekat makna yang terdapat dalam sikap keberagamaan seseorang.

Cerita diawali dari turunnya seorang alien (Aamir Khan) yang ditugaskan untuk meneliti di bumi. Dengan tanpa memakai sehelai busana ia turun seorang diri ke bumi. Satu-satunya yang bisa menghubungkannya dengan planetnya hanyalah sebuah remote control yang berbentuk sebuah kalung yang mengantung di lehernya. Namun sungguh malang, tak berselang lama, orang pertama yang ditemuinya merampas kalungnya dan menghilang entah kemana.

Ditempat lain seorang reporter televisi memutuskan untuk pulang ke negaranya di India setelah sebelumnya bekerja sebagai pembawa berita di Belgia. Di sana ia jatuh cinta kepada seorang pemuda muslim bernama Sarfaraz (Sushant Sing Rajput). Namun saat memberi tahu orang tuanya, ayahnya justru meminta pendapat terlebih dahulu kepada seorang guru spiritualnya yang bernama Tapasvi Ji (Saurabh Shukla). Sang guru menyatakan jika pemuda muslim ini hanya seorang penipu. Wanita bernama Jaggu (Anushka Sharma) ini sakit hati kepada Sarfaraz karena sebuah surat yang ia terima dari seorang anak kecil didalam gereja.

Sebagai seorang alien­-belakangan diketahui bernama PK (Peekay=pemabuk)- yang tak mengerti sama sekali tentang bumi, Ia berusaha keras untuk bisa tetap bertahan tinggal di bumi. Belajar mulai dari awal, mengenal perbedaan jenis dan fungsi pakaian bagi laki-laki dan perempuan, pengunaan mata uang sebagai alat tukar yang sah dalam bertransaksi, hingga penggunaan bahasa sebagai medium penyampai pesan bagi manusia. Yang terakhir ini menjadi sangat penting mengingat di planetnya komunikasi hanya dilakukan dengan medium tangan, maka ia belajar bahasa India selama enam jam dari seorang Wanita Tunasusila.

Hingga akhirnya atas saran seorang teman ia datang ke New Delhi untuk menemukan remote control-nya. Karena tanpa remote control tersebut ia tidak bisa memberi sinyal dan terancam tak kembali ke planetnya. Namun setiap orang yang ia temui tak ada yang tahu tentang remote control-nya, bahkan banyak diantaranya yang menyarankan untuk meminta bantuan Tuhan (Bhagwan). Maka PK berpikir jika Tuhanlah yang menjadi tumpuannya kali ini. Ia pun mulai mencari Tuhan.

Disinilah petualangan sesungguhnya dimulai. Disaat PK mencari Tuhan untuk meminta kembali remote control-nya, ia justru dibingungkan dengan banyaknya Tuhan yang ia temui. Tentunya dengan seperangkat atribut yang berbeda. Akhirnya ia memutuskan untuk menyembah semua Tuhan yang ada, karena berpikir jika mungkin salah satunya adalah Tuhan yang tepat. Jaggu yang mengetahui kebenaran ceritanya memutuskan untuk membantunya menemukan kembali remote control-nya yang ternyata berada di tangan Tapasvi Ji.

Keberagaman Keberagamaan

Film yang disutradarai oleh Raj Kumar Hirani ini menyajikan cerita yang menarik, segar dan menyuguhkan makna dibalik keberagaman keberagamaan seseorang. Isu yang kerap dianggap sensitif ini dikemas dengan taburan komedi dan pertanyaan polos layaknya anak kecil yang memiliki beragam pertanyaan.

Banyak hal yang ‘disentil’ oleh film ini, salah satunya indikasi keberagamaan seseorang tidak bisa sekedar dilihat dari atribut yang menghiasinya. Karena berbagai atribut tersebut adalah manusia sendiri yang menciptakan dan sama sekali tidak dapat menjadi parameter keberagamaan seseorang. Film ini juga mengingatkan kita untuk tidak mengkomersialisasikan keberagamaan seseorang. Apalagi memanfaatkannya demi tujuan materi semata.

Pesan yang diusung tentang keberagaman umat beragama menjawab berbagai fenomena yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Menyadarkan kita untuk belajar lebih jauh tentang makna sebuah keberagaman. Karena sejatinya keberagaman adalah kekayaan yang menjadi mozaik yang indah dan saling melengkapi satu dan lainnya.[]