AKSI DEMONSTRASI TERKAIT TUNTUTAN MAHASISWA UIN KHAS JEMBER

Aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Islam Negeri Kh. Achmad Sidiqq (UIN KHAS) Jember yang tergabung dalam aliansi Penolakan Penindasan Kepada Mahasiswa (PPKM) menuntut di kembalikannya hak-hak mahasiswa. Demonstrasi mahasiswa berlangsung pada jumat (23/7/2021). Titik kumpul bertempat di parkiran Gedung Kuliah Terpadu (GKT) UIN KHAS Jember. Selanjutnya massa demonstrasi bergerak menuju ke depan kantor Rektorat untuk menyuarakan aspirasinya.

Berlangsungnya massa aksi PPKM sebagai tindak lanjut dari kegagalan audiensi antara pihak Republik Mahasiswa (RM) dengan pihak Rektorat pada (16/07) terkait kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa. Terdapat empat poin tuntutan mahasiswa diantaranya perlu melibatkan RM dalam mengawal UKT, memperjelas data penerima UKT, melakukan pengaturan ulang terhadap kebijakan yang sudah berlaku (skema pembayaran UKT, perpanjangan pembayaran, membuka kuota banding mahasiswa baru) serta menyediakan sarana prasarana kuliah daring.

Dalam orasinnya M. Zakaria Drajat Dahlan selaku Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut (DEMA-I) UIN KHAS Jember menyampaikan bahwa aksi massa mahasiswa ini adalah untuk menuntut keadilan bagi seluruh mahasiswa. Dalam orasinya tersebut ia mengancam jika pihak rektor tidak hadir maka seluruh mahasiswa bersama – sama akan mengirimkan pesan Whatsapp kepada pihak Rektor. Hal senada diungkapkan massa aksi PPKM dalam menuntut tuntutan mahasiswa. “Kita disini hadir untuk memperjuangkan hak hak mahasiswa,” ungkap Nurul Hidayat, mahasiswa program studi Tadris Biologi.

Dalam aksi demonstrasi tersebut sempat diwarnai adanya pembakaran ban bekas di depan gedung rektorat hingga menimbulkan asap tebal di sekitaran gedung. Aksi mahasiswa ini adalah bentuk penyampaian aspirasi kepada pihak rektorat. “Kita disini untuk menyampaikan aspirasi bukan bertindak anarki maka jangan sampai ada tindakan oknum yang merusak penyampaian aspirasi kita,” ungkap Mustofa selaku Wakil Senat Mahasiswa Institut (SEMA-I) UIN KHAS Jember. Dalam orasinya ia juga mempertanyakan tugas – tugas pihak rektorat. “Kita minta data dipersulit, kita minta kuota ada mafia, tugas rektorat apa? lalu gunanya yurisprodensi apa? ,” tambahnya.

Dalam Aksi massa demonstrasi mahasiswa tersebut pihak rektorat yang diwakili oleh Wakil Rektor (Warek) 1, Warek 2, Warek 3 akhirnya menemui massa aksi demonstrasi di dalam gedung rektorat. Dalam pertemuan tersebut terjadi proses dialog antara ketiga Warek dan mahasiswa. Chatib selaku Warek 2 menyampaikan bahwa ketidakhadirannya pada audiensi bersama RM karena sedang sakit. Selanjutnya ia bersama seluruh Warek berjanji akan membantu seluruh mahasiswa. “Pada prinsipnya kami (semua Warek) akan bantu mahasiswa sepanjang prosedurya dijalankan dan berkasnya ada,” ungkap Chatib.

Selanjutya Miftah Arifin selaku Warek 1 mengungkapkan terkait keringanan UKT itu sudah menajdi komitmen kita ditingkat pimpinan, siapapun yang mengajukan keringanan pasti diturunkan asalkan prosedurnya di lalui. “Yang boleh banding adalah seluruh mahasiswa, mahasiswa baru dapat megajukan banding setelah melakukan registrasi hingga resmi menjadi mahasiswa IAIN,” tambahnya.
Rektor tidak dapat hadir menemui aksi massa mahasiswa dikarenakan adanya kunjungan kerja bersama Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), La nyala Mataliti di Banyuwangi. “Rektor bersama La nyala di Banyuwangi,“ ungkap Hefni Zein selaku Warek 3.

Mahasiswa mendesak seluruh pimpinan rektorat untuk menandatangani tuntutan mahasiswa. Ketiga Warek tersebut pada akhirnya bersedia menandatangani tuntutan mahasiswa kecuali Rektor yang masih berada diluar kota. Sehingga massa aksi mahasiswa memutuskan untuk menyegel gedung rektorat hingga Rektor datang
Reporter : Izza, aab, zulfa